- Home
- /
- New Economy
- /
- CSR
Energi yang Menghidupkan Desa: Kisah Warga Bondan Mengubah Cahaya Menjadi Harapan
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Bagi sebagian masyarakat, listrik mungkin hanya dipandang sebagai kebutuhan dasar yang sudah sewajarnya tersedia. Namun bagi warga Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, energi memiliki makna yang jauh lebih besar. Energi menjadi simbol perubahan, membuka akses kehidupan yang sebelumnya terbatas, sekaligus menjadi jalan menuju kemandirian masyarakat.
Berada di kawasan pesisir yang terpisah dari wilayah utama, Dusun Bondan memiliki tantangan geografis tersendiri. Untuk menuju lokasi tersebut, masyarakat harus menggunakan jalur laut. Kondisi tersebut membuat akses terhadap infrastruktur dasar, termasuk listrik dan air bersih, menjadi persoalan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Muhammad Jamaluddin, warga asli Dusun Bondan, masih mengingat bagaimana kehidupan masyarakat sebelum energi hadir.
“Jadi Dusun Bondan ini adalah dusun yang memang sejak puluhan tahun lalu, saya warga masyarakat Dusun Bondan, anak Dusun Bondan, saya bersekolah di sana, merasakan betul hidup dalam kegelapan, belajar di malam hari geramakan bahasa saya begitu ya, karena pakai lampu sentir, teplok minyak tanah seperti itu,'' kenang Bondan dalam gelaran Pertamax Journey di Dusun Bondan, Kamis (10/9/2026).
Bagi Jamal, kondisi tersebut bukan sekadar cerita masa lalu. Ia mengalami sendiri bagaimana anak-anak harus belajar dengan penerangan terbatas, sementara masyarakat harus beradaptasi dengan keterbatasan fasilitas.
Perubahan mulai dirasakan ketika program Desa Energi Berdikari (DEB) hadir pada 2017 melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga hibrida yang memanfaatkan energi surya dan angin.
“Pada tahun 2017 kami menerima sebuah anugerah yang sangat luar biasa berupa pembangkit listrik yang sangat berguna bagi masyarakat Dusun Bondan," ucap Jamal.
Energi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.“Jadi di tempat kami itu ada pembangkit listrik panel surya dengan kincir angin yang mana pembangkit ini memang kita gunakan untuk penerangan di rumah sejumlah 78 KK," tambahnya.
Kehadiran listrik membuat perubahan besar bagi masyarakat. Anak-anak dapat belajar lebih nyaman, aktivitas warga meningkat, dan masyarakat mulai memiliki ruang untuk mengembangkan berbagai solusi terhadap persoalan lain yang mereka hadapi.
Namun perjalanan Dusun Bondan tidak berhenti pada menghadirkan cahaya. Energi kemudian menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan yang lebih luas.
Salah satu tantangan terbesar masyarakat adalah akses air bersih. Meski berada di kawasan perairan, sumber air yang tersedia sebagian besar berupa air asin sehingga tidak dapat langsung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebelum ada inovasi, warga harus mengambil air bersih dari wilayah lain dengan menggunakan perahu.
“Untuk memperoleh air bersih kita harus ke Pulau Nusakambangan kurang lebih sekitar 4 km dengan perahu kecil itu dan risikonya sangat luar biasa," tambahnya.
Melalui pemanfaatan energi yang tersedia, masyarakat kemudian mengembangkan inovasi Sistem Desalinasi Air Berbasis Masyarakat atau Si Desi Mas.
Teknologi tersebut memungkinkan air payau diolah menjadi air tawar yang dapat digunakan masyarakat untuk berbagai kebutuhan.
“Jadi alhamdulillah sekarang di Dusun Bondan itu sudah ada penyulingan untuk menghasilkan air payau untuk menjadi air tawar yang bisa digunakan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari untuk mencuci dan lain sebagainya, memasak dan lain sebagainya," tandasnya.
Baca Juga: Harga Pertamax Green 95 Naik Rp2.550 per Liter Mulai 2 September 2026
Dalam program DEB Dusun Bondan, pembangkit energi yang digunakan memiliki kapasitas 16.200 Wp. Energi tersebut tidak hanya mendukung penerangan, tetapi juga menopang kebutuhan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat. Program ini memberikan manfaat bagi 78 kepala keluarga serta menjadi contoh bagaimana energi terbarukan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat lokal.
Energi yang Menggerakkan Ekonomi dan Ketahanan Desa
Menurut Manager CSR Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati, konsep Desa Energi Berdikari terus mengalami perkembangan. Program tersebut tidak lagi hanya berorientasi pada penyediaan energi, tetapi diarahkan agar memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Awalnya, program Desa Energi Berdikari memang dimulai dari penyediaan listrik untuk penerangan rumah dan fasilitas umum. Namun dalam perkembangannya, Pertamina melihat bahwa energi harus mampu menjadi penggerak perubahan masyarakat.
“Namun kami berpikir lagi, berarti program ini berhenti hanya sampai di situ saja, belum ada aspek sustainability-nya, belum ada aspek keberlanjutannya, sehingga kami mulai untuk mencoba mengembangkan program Desa Energi Berdikari ini kami inline-kan," kata Sari.
Energi bersih kemudian dikembangkan untuk mendukung berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, pengolahan sampah, hingga usaha ekonomi masyarakat.
Konsep tersebut kemudian diterapkan melalui berbagai program pemberdayaan, salah satunya Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN).
Program MAPAN hadir untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang semakin berdampak terhadap sektor pertanian. Berdasarkan data program, kenaikan suhu sekitar 1–2,5 derajat Celcius dapat menyebabkan penurunan produksi padi hingga 50 persen, sementara perubahan curah hujan juga berpengaruh terhadap produktivitas lahan.
Di wilayah program MAPAN, terdapat tantangan besar berupa ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian. Sekitar 75 persen masyarakat bekerja sebagai petani dan buruh tani, sementara persoalan irigasi menjadi salah satu hambatan karena terdapat sekitar 45 hektare lahan yang menghadapi keterbatasan akses pengairan.
Melalui program tersebut, energi terbarukan dipadukan dengan sistem pertanian berkelanjutan. Pemanfaatan PLTS dan PLTB menghasilkan energi sebesar 22.850 Wp untuk mendukung aktivitas pertanian.
Dampaknya tidak hanya terlihat dari sisi lingkungan, tetapi juga ekonomi. Program tersebut mencatat pengurangan emisi karbon sebesar 2.860 kilogram CO₂ ekuivalen per tahun, efisiensi penggunaan air penyiraman hingga 85 persen, serta pengelolaan limbah pertanian sekitar 660 kilogram.
Baca Juga: Soal Desil Pertalite, Pertamina Masih Menunggu Keputusan Pemerintah
Dari sisi ekonomi masyarakat, program MAPAN menghasilkan pendapatan dari sektor pertanian dan diversifikasi produk. Hasil panen padi kelompok mencapai sekitar Rp220,35 juta per panen, pendapatan diversifikasi produk mencapai sekitar Rp5,33 juta per bulan, sementara sektor hortikultura dan perikanan menghasilkan sekitar Rp7,15 juta.
Program tersebut melibatkan 233 penerima manfaat dari kelompok rentan, mulai dari petani gurem, petani perempuan, buruh tani harian, anak-anak, hingga masyarakat miskin pedesaan.
Ketika Energi Menjadi Jalan Baru Ekonomi Masyarakat
Perubahan berbasis energi juga terlihat di wilayah Kutawaru melalui Kampung Kepiting.
Salah satu pengurus, Warrie Anto menjelaskan bahwa energi bersih membantu masyarakat mengembangkan kawasan wisata yang terintegrasi dengan budidaya kepiting.
“Kampung Kepiting adalah suatu wisata yang terintegrasi dengan budidaya," jelasnya.
Program tersebut memberikan peluang baru bagi masyarakat, termasuk mereka yang sebelumnya mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Melalui inovasi budidaya berbasis energi, masyarakat mengembangkan sistem rumah susun kepiting dengan memanfaatkan material bekas. Inovasi tersebut membuat budidaya dapat dilakukan dengan biaya lebih rendah dan tidak selalu bergantung pada tambak konvensional.
Dari aktivitas tersebut, Kampung Kepiting mampu menciptakan perputaran ekonomi sekitar Rp70 juta hingga Rp90 juta per bulan.
Selain perikanan, masyarakat juga mengembangkan konsep ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah.
Material tersebut kemudian dimanfaatkan menjadi berbagai produk seperti meja, kursi, plakat, dan kerajinan.
Dari Desa Menuju Transisi Energi Nasional
Kisah Bondan dan berbagai program energi masyarakat menjadi bagian kecil dari transformasi energi yang lebih besar.
Di tingkat industri, Pertamina juga mengembangkan energi rendah karbon melalui Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Kilang Cilacap.
RU IV Cilacap memiliki peran strategis karena menyumbang sekitar 31 persen kapasitas kilang nasional. Kilang ini tidak hanya menghasilkan BBM, tetapi juga mengembangkan inovasi energi baru melalui pemanfaatan bahan baku seperti minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO).
Pengembangan SAF dilakukan melalui berbagai tahap uji coba hingga persiapan produksi komersial sebagai bagian dari upaya mendukung kemandirian energi dan transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Di sisi distribusi, Pertamina juga memperkuat pengelolaan energi melalui teknologi digital.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Robert MV Dumatubun menjelaskan bahwa Pertamina Hub digunakan sebagai pusat pemantauan distribusi energi secara digital.
“Pertamina, kami sudah memiliki namanya Pertamina Hub. Nah, ini adalah sebuah kontrol room secara digital. Pengelolaan datanya juga menggunakan AI dan ini sudah real-time," terangnya.
Teknologi tersebut memungkinkan pemantauan perjalanan energi mulai dari kapal pengangkut, terminal, hingga distribusi ke masyarakat.
Energi yang Menyalakan Harapan
Bagi masyarakat Dusun Bondan, energi bukan hanya tentang listrik yang menyala di malam hari. Energi telah menjadi pintu menuju perubahan.
Dari sebelumnya belajar dengan lampu minyak, kini generasi baru dapat tumbuh dengan akses yang lebih baik. Dari persoalan air bersih, masyarakat menemukan solusi melalui inovasi sendiri. Dari keterbatasan ekonomi, masyarakat mulai membangun usaha berbasis potensi lokal.
Jamal melihat perubahan terbesar terjadi pada generasi berikutnya.
Baca Juga: Pertamina Dorong Generasi Muda Pahami Strategi Pertumbuhan Ganda dan Transisi Energi
“Anak-anak generasi selanjutnya, anak-anak saya, sekarang saya sudah punya anak alhamdulillah, sudah berumah tangga, sudah tidak lagi merasakan pedihnya kehidupan dalam kegelapan. Alhamdulillah bisa maksimal belajar di siang ataupun malam hari," tutupnya.
Energi yang hadir di Dusun Bondan akhirnya bukan hanya menerangi rumah-rumah warga.
Energi tersebut menyalakan harapan, menggerakkan ekonomi, dan membuka masa depan baru bagi masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: