Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Minyak Dunia Naik, Bahlil Tahan BBM Subsidi, Purbaya Bilang Anggaran Masih Aman

        Minyak Dunia Naik, Bahlil Tahan BBM Subsidi, Purbaya Bilang Anggaran Masih Aman Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kenaikan harga minyak dunia belum membuat pemerintah mengubah harga BBM subsidi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi masih dipertahankan setelah dirinya terus berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

        Bahlil mengatakan keputusan tersebut dilakukan berdasarkan pemantauan terhadap perkembangan harga minyak dunia. Pemerintah juga mengikuti dinamika global yang dapat memengaruhi harga energi dan kebutuhan subsidi.

        "Saya selalu berkoordinasi terus dengan menteri keuangan atas arahan Bapak Presiden Prabowo, selalu melakukan dan mengikuti secara saksama terhadap berbagai dinamika perkembangan global," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

        Koordinasi antara Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya untuk memastikan pemerintah memiliki dasar yang cukup dalam menentukan apakah harga BBM subsidi perlu disesuaikan atau tetap dipertahankan.

        Untuk saat ini, keputusan pemerintah adalah tidak menaikkan harga BBM subsidi. Bahlil menegaskan kebijakan tersebut masih berlaku meski harga minyak dunia mengalami lonjakan.

        "Tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan," kata Bahlil.

        Kenaikan harga minyak tetap menjadi perhatian karena kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan subsidi pemerintah. Bahlil bahkan mengakui bahwa mempertahankan harga BBM subsidi dalam kondisi seperti sekarang bukan perkara mudah.

        "Memang ini adalah sesuatu yang tidak ringan, ini sesuatu yang berat. Kenapa? Karena pasti penambahan subsidinya nambah." katanya.

        Namun, pemerintah memiliki pertimbangan lain dalam mempertahankan harga BBM. Prabowo menilai perlindungan terhadap daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, lebih penting untuk dijaga.

        "Tetapi Bapak Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang sudah kita lakukan," ujar Bahlil.

        Di sisi lain, pemerintah tidak hanya melihat harga minyak dunia pada perdagangan terbaru. Bahlil mengatakan rata-rata ICP sejak awal tahun hingga September masih berada di kisaran US$85-US$90 per barel.

        Baca Juga: Lihat Antrean BBM Mengular, Gibran Mendadak Turun dari Mobil Cek SPBU

        "Sekalipun sekarang sudah menjadi 106 sampai 108 dolar per barel, tapi rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar 85 sampai 90. Jadi masih, overall masih oke, ya." katanya.

        Perbedaan antara harga minyak sesaat dan rata-rata ICP menjadi salah satu dasar pemerintah dalam membaca kondisi energi. Lonjakan harga dalam perdagangan terbaru belum otomatis dianggap sebagai alasan untuk mengubah harga BBM subsidi.

        Sebelumnya, Purbaya juga menyampaikan bahwa anggaran subsidi energi pemerintah masih cukup untuk menghadapi kondisi saat ini. Pernyataan tersebut memperkuat posisi pemerintah yang memilih mempertahankan harga BBM sembari memantau apakah kenaikan harga minyak akan berlangsung sementara atau bertahan lebih lama.

        Jika harga minyak dunia terus berada pada level tinggi, pemerintah tetap harus menghitung kembali dampaknya terhadap anggaran. Sebab, semakin lebar selisih antara harga pasar dan harga BBM subsidi, semakin besar pula tekanan yang harus ditanggung melalui subsidi.

        Untuk sementara, pemerintah memilih tidak memindahkan tekanan harga minyak dunia kepada konsumen BBM subsidi. Bahlil dan Purbaya masih akan memantau perkembangan pasar sebelum pemerintah menentukan apakah kebijakan tersebut perlu dipertahankan atau dievaluasi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: