Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
PT Bio Farma (Persero) memperkuat riset dan pengembangan (R&D) untuk mengurangi ketergantungan terhadap vaksin impor. Sejumlah vaksin yang dikembangkan mencakup tifoid, rotavirus, human papillomavirus (HPV), hingga vaksin kombinasi pentavalen dan hexavalen.
Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan pengembangan vaksin tifoid tengah dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Produk tersebut juga mulai didaftarkan ke sejumlah negara, salah satunya Pakistan, untuk memperluas akses dan pasar.
"Meski vaksin tersebut saat ini belum menjadi bagian dari program imunisasi nasional, Bio Farma berharap penggunaannya dapat diperluas melalui program pemerintah pada masa mendatang," kata Shadiq Akasya di Bandung, Rabu (16/9/2026).
Baca Juga: Bio-RV Bio Farma Kantongi Izin Edar BPOM untuk Vaksin Rotavirus Neonatal
Baca Juga: Bio Farma Group Salurkan Vaksin Hingga Obat untuk Korban Gempa NTT
Sementara itu, Bio Farma menargetkan produksi vaksin rotavirus untuk kebutuhan domestik dapat dilakukan secara bertahap mulai 2027. Selama ini, kebutuhan vaksin tersebut di Indonesia masih dipenuhi melalui produk impor.
Vaksin rotavirus digunakan untuk mencegah infeksi rotavirus yang menjadi salah satu penyebab diare pada anak. Bio Farma mengembangkan proses produksi di dalam negeri mulai dari pengembangan seed yang diperoleh dari luar negeri, penumbuhan dan pemanenan, formulasi, hingga pengemasan di fasilitas perusahaan di Bandung.
Untuk vaksin HPV, Bio Farma masih menunggu penerbitan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Produk yang dikembangkan melalui kerja sama dengan MSD tersebut ditargetkan memperoleh nomor izin edar pada 2026.
Vaksin HPV telah digunakan dalam program imunisasi nasional untuk anak perempuan dan kemudian diperluas kepada anak laki-laki. Perluasan tersebut dilakukan karena infeksi HPV tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks pada perempuan, tetapi juga dapat menyebabkan penyakit terkait HPV pada laki-laki.
Shadiq mengatakan penguatan R&D menjadi bagian penting untuk meningkatkan kemampuan Bio Farma dalam mengembangkan produk vaksin.
"Kita harus punya kekuatan R&D. Kalau R&D tidak kuat, bagaimana kita akan bisa bersaing," ujarnya.
Bio Farma juga mengembangkan vaksin kombinasi pentavalen dan hexavalen yang menggabungkan lima hingga enam antigen dalam satu produk. Pengembangan tersebut ditujukan untuk menyederhanakan pemberian beberapa jenis vaksin.
Sebagian kebutuhan vaksin kombinasi di Indonesia saat ini masih dipenuhi melalui produk impor. Bio Farma menargetkan vaksin hasil pengembangan tersebut mulai tersedia sekitar 2027–2028.
Penguatan portofolio produk berjalan bersamaan dengan ekspansi pasar Bio Farma. Perusahaan tidak hanya membawa teknologi dari luar negeri ke Indonesia, tetapi juga mulai mentransfer teknologi yang dikembangkan di dalam negeri ke pasar internasional.
Salah satu implementasinya dilakukan melalui transfer teknologi vaksin polio ke India. Teknologi tersebut telah ditransfer dan mitra di India disebut telah mampu melakukan produksi.
Bio Farma juga melakukan transfer teknologi ke Senegal dan Ghana di Afrika. Shadiq mengatakan perusahaan membuka peluang transfer teknologi ke negara lain untuk memperluas pemanfaatan teknologi kesehatan yang dikembangkan di Indonesia.
Di sisi internal, transformasi Bio Farma sejak 2024 mencakup reorientasi bisnis dan restrukturisasi keuangan. Reorientasi bisnis dilakukan melalui pengembangan portofolio produk dan perluasan pasar, disertai peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta pembenahan sistem teknologi informasi, termasuk pengembangan enterprise resource planning(ERP).
"Bio Farma tidak hanya diarahkan untuk menjadi produsen vaksin bagi kebutuhan domestik, tetapi juga memperkuat kapasitas inovasi, produksi, dan transfer teknologi sebagai bagian dari pengembangan industri kesehatan Indonesia," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: