Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AI Mulai Ubah Dunia Kerja, Talenta Manusia Tetap Jadi Kunci Produktivitas

        AI Mulai Ubah Dunia Kerja, Talenta Manusia Tetap Jadi Kunci Produktivitas Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendorong perubahan besar dalam cara organisasi bekerja, mengelola talenta, dan meningkatkan produktivitas. Namun, pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan dan efisiensi. Kesiapan manusia, kepemimpinan, budaya organisasi, serta kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting agar transformasi digital menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.

        Pesan tersebut mengemuka dalam Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 yang berlangsung pada 15–16 September 2026 di NICE PIK 2, Tangerang. Mengusung tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity”, forum ini mempertemukan sekitar 6.000 peserta dari sektor swasta, pemerintahan, akademisi, dan praktisi human capital.

        IHCBS 2026 menghadirkan lebih dari 70 pembicara nasional dan internasional untuk membahas perubahan dunia kerja, pengembangan kompetensi, kepemimpinan, produktivitas, hingga strategi organisasi menghadapi perkembangan AI.

        Forum yang diinisiasi Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), OneGML, QuBisa, dan Kontan tersebut menempatkan pendekatan human-centric sebagai salah satu pesan utama. Teknologi dipandang bukan sekadar alat untuk menggantikan pekerjaan, melainkan sarana untuk memperkuat kapasitas manusia dan mendesain ulang cara organisasi bekerja.

        Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam sesi Grand Keynote bertajuk “Closing the ASEAN Gap: A 'People Centered' Policy Framework for National Competitiveness” menekankan pentingnya kebijakan yang berpusat pada manusia dalam memperkuat daya saing nasional.

        Menurut Yassierli, perubahan teknologi dan AI membawa konsekuensi terhadap struktur pekerjaan sekaligus kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Karena itu, penerapan AI perlu dibarengi strategi pengembangan manusia. Untuk itu empat prinsip People-Centric AI, yakni memperkuat kemampuan manusia, melibatkan pekerja dalam proses transformasi, menjaga kendali manusia, serta mempersiapkan pekerja menghadapi perubahan.

        Pendekatan tersebut menempatkan AI sebagai teknologi yang memperkuat manusia. Sebab, perubahan yang terjadi di dunia kerja tidak selalu berarti hilangnya pekerjaan, tetapi juga munculnya cara kerja dan tuntutan kompetensi baru. “Rather than simply replacing job, AI is reshaping them in fundamentally different ways,” ujar Yassierli.

        Pandangan tersebut sejalan dengan pembahasan Paul Choo, CHRO Bridgestone Asia Pacific, dalam sesi International Inspire bertajuk “Best Practices of Human Centric Practices: an Asia Pacific Perspective.”

        Paul menjelaskan, AI dapat menjadi enabler untuk mendesain ulang pekerjaan dan organisasi. Karena itu, transformasi perlu mencakup peningkatan kapasitas tenaga kerja, transformasi fungsi HR, desain ulang pekerjaan dan alur kerja, serta perubahan budaya dan kepemimpinan. “AI doesn’t simply change jobs. It changes how workflows through the organizations. You need to redesign around Human and AI,” kata Paul.

        Perspektif penguatan kapasitas manusia juga muncul dalam sesi National Inspire bersama Managing Director HC Danantara Aset Manajemen Agus Dwi Handaya melalui topik “PeopleMath = Formula Transformasi Future Ready Workforce, Korporasi dan Bangsa.”

        Agus memperkenalkan pendekatan PeopleMath untuk melihat kinerja manusia secara lebih menyeluruh. Menurut dia, pengukuran kinerja tidak cukup hanya berfokus pada angka, tetapi juga perlu memperhatikan pertumbuhan manusia dan nilai yang diwariskan dalam organisasi. “Angka menunjukkan apa yang kita capai, manusia yang bertumbuh menunjukkan apa yang kita wariskan,” ujarnya.

        Sementara itu, Jonathan Tahir, President Commissioner Mayapada Healthcare, dan Pushkar Saran, Executive Director ETS for Institutional Programs in Southeast Asia, menyoroti pentingnya menyesuaikan standar global dengan kebutuhan nasional.

        Menurut Jonathan, praktik terbaik dari luar negeri tidak selalu dapat diterapkan secara langsung. Organisasi perlu menyesuaikan standar global dengan konteks lokal agar menghasilkan daya tahan dan kapasitas yang relevan.

        Pembahasan mengenai ketahanan organisasi kemudian dilanjutkan Sutanto Hartono, Managing Director PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK), melalui topik “The Resilience Factor: Building a Resilient Mindset and an Outcome-Based Work Culture in the Era of Transformation.”

        Ia menekankan pentingnya membangun pola pikir tangguh dan budaya kerja berbasis hasil. Implementasi AI, menurutnya, perlu diarahkan untuk meningkatkan kinerja sekaligus mendorong pemimpin dan pekerja bertransformasi bersama teknologi.

        Pada hari kedua, IHCBS 2026 memperluas pembahasan mengenai hubungan AI, talenta, dan produktivitas. Chairman of Steering Committee GNIK Yunus Triyonggo menyampaikan tiga pelajaran utama dari hari pertama, yakni pentingnya kolaborasi, masifnya perkembangan AI, dan kebutuhan continuous learning.

        Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Muhammad Taufiq menilai IHCBS tidak sekadar menjadi forum konferensi, tetapi ruang untuk membangun pemikiran mengenai pengembangan talenta yang dibutuhkan Indonesia.

        Agenda hari kedua juga diisi dengan IHCBS Award 2026 sebagai bentuk apresiasi terhadap organisasi dan individu yang dinilai menerapkan praktik human capital serta pengembangan tenaga kerja. Untuk kategori perusahaan, penghargaan diberikan kepada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk sebagai National Workforce Employability Multiplier, PT Paragon Technology and Innovation sebagai Entrepreneurial Ecosystem Accelerator, dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) sebagai Human-Centric Digital Productivity Pioneer.

        Pada kategori individu, penghargaan diberikan kepada Lianawaty Suwono sebagai National Employability Champion dan Harman Subakat sebagai Employment Creation Architect. Adapun Special Recognition diberikan kepada SMK Mitra Industri MM2100 sebagai Workforce Employability Game Changer dan Rr. Dwi Kuntari sebagai Emerging Regional Employment Creator.

        Salah satu sesi yang mendapat perhatian adalah International Inspire bertajuk “Talent Advantage = AI x HI: Harnessing Human Ingenuity to Unlock Next-Level Productivity” bersama Dave Ulrich, yang dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam pengembangan manajemen sumber daya manusia modern.

        Dave menekankan bahwa keunggulan talenta ke depan tidak hanya bergantung pada kemampuan menggunakan AI, tetapi juga pada human ingenuity. Kemampuan manusia dalam membangun visi, berinovasi, memahami hubungan sosial, serta menggunakan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan tetap menjadi bagian penting dalam organisasi.

        Menurutnya, fungsi HR juga perlu bergeser dari sekadar mengelola sumber daya manusia menuju penciptaan nilai bagi organisasi dan pemangku kepentingan. “HI (Human Ingenuity) is people. HI have vision of the future, innovation in the present, emotion/empathy in relationship and wisdom in decisions and judgment,” ujar Dave.

        Sementara itu, CEO & CTO GDP LABS On Lee melalui sesi “Human-Centric Digitalization: Turning Technological Potential into Measurable Productivity” menekankan bahwa digitalisasi perlu menghasilkan dampak produktivitas yang dapat diukur. Untuk itu, pentingnya memberdayakan pekerja, mempertahankan kendali manusia, menerapkan tata kelola AI, membangun keterampilan dan kepercayaan, serta mengukur nilai nyata dari penerapan teknologi.

        Dampak AI terhadap kesempatan kerja turut dibahas dalam Battle Session bertajuk “AI vs Human Leadership: Does Investment in Technology Hurt Employment Opportunities?” yang menghadirkan Founder Jobseeker Company Chandra Ming dan Staf Ahli Kementerian Ketenagakerjaan Estiarty Haryani.

        Chandra menilai perubahan akibat AI perlu diantisipasi melalui kesiapan tenaga kerja. Sementara Estiarty menegaskan bahwa AI merupakan salah satu alat yang tidak secara otomatis mengurangi kesempatan kerja, tetapi perubahan teknologi tetap perlu diantisipasi melalui identifikasi dan pengembangan kompetensi baru.

        “AI sebagai salah satu tools dan tidak automatically mengurangi kesempatan kerja tetapi kita perlu meng-counter kemungkinan ini terjadi. Perlu mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan untuk menjawab perubahan teknologi untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Estiarty.

        Isu kesiapan menghadapi persaingan di era AI juga dibahas CIO Danantara Pandu Patria Sjahrir dalam sesi “Investing in Digital Infrastructure to Accelerate the Productivity Ecosystem.”

        Menurut Pandu, Indonesia perlu membangun rasa urgensi agar mampu menghadapi persaingan global yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi.

        Dari perspektif pendidikan tinggi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menekankan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia seiring pertumbuhan AI yang berlangsung secara eksponensial.

        Menurut Stella, perkembangan AI sekaligus membuka peluang bagi Indonesia, termasuk dalam pengembangan computing power, pusat data, dan kebutuhan energi. Namun, peluang tersebut membutuhkan kesiapan sumber daya manusia agar Indonesia mampu mengambil manfaat dari perubahan teknologi. “Kita perlu menyiapkan Human Capital saat ini. Kalau tidak kita akan termarginalisasi, kita akan kalah dan Indonesia akan mengalami hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

        Pembahasan IHCBS 2026 juga diperkuat hasil survei mengenai penggunaan AI di perusahaan yang dipaparkan CEO Impactum Insights Vlad Hatieganu. Survei tersebut menunjukkan bahwa perubahan pekerjaan tidak dapat dihindari seiring perkembangan teknologi, namun keterampilan manusia tetap memiliki nilai dalam dunia kerja.

        Rangkaian forum ditutup Managing Director Kontan Cipta Wahyana dengan mendorong peserta menerjemahkan diskusi menjadi langkah konkret. Organisasi, antara lain, dapat memilih satu persoalan bisnis, mendesain ulang satu proses kerja, melibatkan pekerja sejak awal, dan mengukur dampaknya.

        Dengan demikian, IHCBS 2026 tidak berhenti pada pembahasan mengenai seberapa cepat organisasi mengadopsi AI. Forum ini menegaskan bahwa produktivitas masa depan juga ditentukan oleh kemampuan organisasi menggabungkan teknologi dengan talenta, human ingenuity, kepemimpinan, budaya kerja, serta ekosistem digital yang mendukung.

        Transformasi AI pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda teknologi, tetapi juga agenda pembangunan kapasitas manusia agar tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi, menciptakan nilai, dan mengambil peran dalam perubahan dunia kerja.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Sufri Yuliardi

        Bagikan Artikel: