Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Aturan Baru HPM Nikel 2026 Bikin Penambang Menjerit, Smelter Malah Panen Cuan?

Aturan Baru HPM Nikel 2026 Bikin Penambang Menjerit, Smelter Malah Panen Cuan? Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah resmi mengubah formula Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026. Regulasi baru ini mengubah struktur perhitungan harga bijih nikel dengan memperketat penilaian terhadap kualitas ore, terutama untuk bijih nikel kadar rendah.

Perubahan tersebut berpotensi menciptakan dinamika baru dalam rantai pasok nikel nasional. Di satu sisi, pemilik smelter berpeluang memperoleh bahan baku dengan struktur harga yang lebih kompetitif. Namun di sisi lain, penambang yang menghasilkan bijih limonite kadar rendah perlu melakukan penyesuaian strategi produksi.

Dalam formula baru, perhitungan HPM bijih nikel tidak hanya mempertimbangkan kadar nikel (Ni), tetapi juga memasukkan komponen mineral ikutan seperti Fe, Co, Cr serta faktor kadar air (moisture content). 

Limonite Kadar Rendah Jadi Segmen Paling Terdampak

Perubahan paling signifikan terjadi pada bijih limonite dengan kadar nikel rendah, khususnya kategori Ni ≤1,2%.

Berdasarkan perbandingan formula sebelumnya dalam Kepmen ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026 dengan formula baru dalam Kepmen Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026, terjadi penyesuaian Corrective Factor (CF) Ni untuk kelompok kadar rendah.

Dengan menggunakan HMA Nikel periode kedua September 2026 sebesar US$16.698 per dry metric tonne (dmt), simulasi komponen nilai Ni menunjukkan adanya perubahan signifikan.

Formula Lama (Kepmen 144)

CF Ni untuk kadar 1,2% sebesar 26%.

Perhitungan:

1,2 × 26% × US$16.698 = sekitar US$5.206/dmt

Formula Baru (Kepmen 363)

Untuk kadar Ni ≤1,2%, CF Ni menjadi 14%.

Perhitungan:

1,2 × 14% × US$16.698 = sekitar US$2.806/dmt

Dengan simulasi tersebut, terdapat selisih sekitar US$2.400/dmt pada komponen nilai Ni, atau turun sekitar 46% dibanding formula sebelumnya.

Namun, angka tersebut merupakan simulasi pada komponen Ni saja. Nilai HPM final tetap akan dipengaruhi oleh komponen lain seperti Fe, Co, Cr, serta faktor kadar air sesuai formula baru. 

Smelter Berpotensi Mendapat Ruang Margin

Perubahan formula ini menjadi perhatian bagi pelaku industri pengolahan nikel, khususnya smelter berbasis pengolahan limonite.

Dengan potensi penyesuaian harga bahan baku, biaya feedstock smelter dapat menjadi lebih kompetitif. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang terhadap margin pengolahan, terutama ketika industri menghadapi tekanan harga nikel global dan biaya operasional yang tinggi.

Bagi smelter, perubahan formula HPM membuat harga bijih semakin mencerminkan kualitas bahan baku yang dibeli.

Berbeda dengan limonite kadar rendah, bijih saprolite dengan kadar Ni lebih tinggi relatif lebih stabil.

Baca Juga: Harga Bijih Naik Dua Kali Lipat, Vale Dorong Revisi HPM Limonit

Untuk simulasi saprolite dengan kadar Ni 1,6%, faktor koreksi (CF) tetap berada pada level 30% dalam formula lama maupun baru.

Perhitungan:

1,6 × 30% × US$16.698 = sekitar US$8.015/dmt

Dari sisi komponen Ni, nilai tersebut praktis tidak mengalami perubahan.

Dalam aturan baru, CF bijih nikel untuk kadar 1,6% Ni ditetapkan sebesar 30%, dengan penyesuaian berdasarkan perubahan kadar Ni. 

Margin Industri Nikel Berpotensi Bergeser

Perubahan HPM ini menunjukkan adanya pergeseran dalam struktur ekonomi rantai pasok nikel.

Penambang dengan cadangan limonite kadar rendah berpotensi menghadapi tekanan terhadap nilai jual ore, sementara smelter berpeluang memperoleh keuntungan dari struktur biaya bahan baku yang lebih rendah.

Baca Juga: Vale Buka-bukaan Soal Hambatan Hilirisasi Nikel, Ada Klaim Lahan Sepihak

Baca Juga: FINI Tunggu Keputusan Pemerintah soal Formula HPM Limonit

Sementara itu, tambang dengan kualitas bijih lebih tinggi, terutama saprolite dengan kadar Ni yang lebih kuat, relatif lebih mampu mempertahankan nilai ekonominya.

Dengan demikian, revisi HPM nikel tidak hanya menjadi perubahan administratif, tetapi berpotensi memengaruhi distribusi margin antara sektor tambang dan pengolahan dalam ekosistem nikel Indonesia.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra