- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Perminas Bongkar Hambatan LTJ RI, Mineral Ikutan Belum Bisa Dimanfaatkan
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Di tengah besarnya potensi sumber daya yang dimiliki, pemanfaatan LTJ dari mineral ikutan tambang belum dapat berjalan optimal karena terkendala kepastian tata kelola dan mekanisme transaksi.
Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono, mengungkapkan salah satu sumber potensial LTJ sebenarnya sudah tersedia melalui mineral ikutan dari aktivitas pertambangan, seperti monasit yang berasal dari tambang timah.
Namun, pemanfaatannya masih terbentur persoalan kewenangan dan status pengelolaan. Menurutnya, aturan yang ada saat ini belum secara jelas mengatur mekanisme pemanfaatan mineral ikutan tersebut.
“Mandat yang diberikan kepada PT Timah itu hanya khusus untuk timahnya, tapi sampingnya tidak. Artinya barang masih punya negara. Kalau ditransaksikan ke Perminas, salah. Kami mengambil juga salah, karena bertransaksi atas dasar barang yang tidak sah,” ujar Gilarsi dalam CPI Forum 2026 di Jakarta, dikutip Kamis (24/9/2026).
Menurut Gilarsi, persoalan tersebut menjadi salah satu hambatan utama dalam membangun rantai pasok LTJ nasional. Padahal, kepastian pasokan bahan baku menjadi faktor penting sebelum industri pengolahan LTJ dikembangkan dalam skala besar.
Potensi LTJ Indonesia
Indonesia sendiri memiliki potensi LTJ yang cukup besar. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat sekitar 1,2 juta hektare wilayah yang mengandung potensi logam strategis tersebut.
Badan Industri Mineral (BIM) juga telah mengidentifikasi delapan blok potensial sumber primer LTJ yang tersebar di wilayah Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah membentuk Perminas sebagai entitas yang diharapkan dapat menjadi kendaraan pengelolaan mineral strategis nasional.
Meski demikian, Gilarsi menilai keberadaan sumber daya tersebut belum otomatis dapat langsung masuk tahap produksi. Pasalnya, kegiatan eksplorasi tetap diperlukan untuk memastikan jumlah cadangan serta tingkat keekonomiannya.
“Keberadaan sumber daya tersebut masih harus dilakukan eksplorasi. Umumnya hal ini bakal memakan waktu hingga lima tahun,” katanya.
Ia menjelaskan, waktu eksplorasi tersebut pun belum menjamin produksi dapat berjalan apabila hasil kajian tidak menunjukkan tingkat keekonomian yang memadai.
“Artinya sampai lima tahun ke depan saya belum bisa berproduksi. Dan itu pun jaminannya kalau eksplorasi hasilnya bagus. Kalau tidak?” ungkapnya.
Pilihan Sumber Bahan Baku
Selain eksplorasi sumber primer, Perminas juga melihat peluang besar dari pemanfaatan sumber sekunder atau mineral ikutan tambang.
Menurut Gilarsi, terdapat perbedaan keekonomian antara membangun tambang LTJ primer dengan mengambil kandungan LTJ dari sisa proses pertambangan yang sudah berjalan.
“Feeling kami hari ini, menambang sebagai primary itu mahal dibanding mengambil dari secondary resources,” ujarnya.
Sejumlah sumber sekunder yang berpotensi dimanfaatkan antara lain monasit dari pertambangan timah, red mud dari industri bauksit, serta limonit dari sektor nikel.
Namun, potensi tersebut belum dapat dimaksimalkan tanpa adanya kepastian regulasi. Gilarsi menilai pemerintah perlu segera menyelesaikan aturan agar mineral ikutan dapat dimanfaatkan secara legal dan memberikan nilai tambah bagi industri nasional.
“Kuncinya ada di regulasi saja. Begitu juga dengan PT Timah, begitu juga dengan ANTAM, begitu juga dengan nikel di Sulawesi. Banyak yang sebenarnya bisa dikumpulkan,” bebernya.
Selain LTJ, Gilarsi juga menyoroti pentingnya pengembangan mineral strategis lain yang berkaitan dengan industri teknologi tinggi, termasuk molibdenum dan kuarsa dengan tingkat kemurnian tinggi (high purity quartz).
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya yang besar, tetapi masih menghadapi tantangan dalam membangun rantai industri hilir.
Baca Juga: Rantai Pasok Makin Kompleks, Independent Assurance Makin Penting bagi Industri Mineral dan Batubara
Baca Juga: OJK: Mineral Strategis Harus Lolos Uji Sebelum Diperdagangkan di BMKS
“Kita punya banyak quartz, di Lampung kita punya quartz dengan purity yang sangat tinggi. Tapi tidak otomatis setelah kita kerjakan menjadi high purity quartz yang bisa dibawa sampai menjadi solar cell atau semikonduktor,” ujarnya.
Ia menilai percepatan industri berbasis mineral strategis membutuhkan penyesuaian kebijakan agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Kepastian Feedstock Jadi Kunci
Di sisi lain, pengembangan industri LTJ juga menghadapi tantangan dari sisi pembiayaan. Menurut Gilarsi, investor membutuhkan kepastian pasokan bahan baku dalam jangka panjang sebelum membangun fasilitas pengolahan.
Pasalnya, pembangunan industri pengolahan mineral membutuhkan investasi besar dengan periode pengembalian yang panjang.
“Yang paling krusial adalah jawaban atas apa yang saya bilang tadi, ada tidak jaminan kalau saya pinjam duit ke bank ini feedstock-nya itu kontinu? Kalau tidak, tidak jalan,” tutupnya.
Dengan potensi sumber daya yang besar, tantangan utama pengembangan LTJ Indonesia kini bukan hanya menemukan cadangan, tetapi memastikan ekosistem dari sumber bahan baku, regulasi, hingga industri pengolahan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: