Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Growth Marketing Agency: Apa yang Berubah dari Model Agency Tradisional?

        Growth Marketing Agency: Apa yang Berubah dari Model Agency Tradisional? Kredit Foto: Pexels
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ada masa ketika pertanyaan utama setelah campaign berjalan adalah berapa banyak leads yang masuk. Kini, perusahaan semakin perlu tahu berapa biaya untuk mendapatkan pelanggan tersebut.

        Tekanannya cukup jelas. Gartner mencatat budget marketing 2026 hanya mencapai 7,8% dari revenue perusahaan. Sebanyak 56% CMO juga mengatakan budget mereka belum cukup untuk menjalankan strategi tahun ini.

        Kondisi ini ikut mengubah cara perusahaan bekerja dengan agency. Fokusnya mulai bergeser dari sekadar menjalankan campaign menuju pertumbuhan yang bisa diukur dan dioptimalkan.

        Seorang klien GTMLab, Gianni Melwani dari Ikigai Studios, menggambarkan pendekatan ini sebagai tim yang bertanggung jawab terhadap funnel secara end-to-end. Menurutnya, model tersebut berbeda dari agency yang menangani bagian campaign secara terpisah.

        Perubahan ini membuat model growth marketing agency semakin relevan. Bukan karena perusahaan membutuhkan lebih banyak aktivitas marketing, tetapi karena setiap aktivitas perlu bekerja lebih terhubung.

        Mengapa Efisiensi Akuisisi Semakin Penting?

        Marketing budget memang tidak selalu turun. Namun, ekspektasi terhadap hasilnya terus meningkat.

        Dalam survei Gartner 2026, budget marketing hanya naik tipis dari 7,7% menjadi 7,8% dari revenue perusahaan. Di saat yang sama, 56% CMO mengatakan mereka kekurangan budget untuk menjalankan strategi marketing.

        Gartner juga mencatat bahwa perusahaan mulai mengalihkan lebih banyak budget ke paid media. Pada 2026, paid media menyumbang 31,4% dari total marketing budget.

        Artinya, semakin banyak uang masuk ke aktivitas akuisisi. Namun, ruang untuk membuang budget pada campaign yang tidak efektif semakin kecil.

        Masalahnya tidak selalu selesai dengan mengurangi advertising spend. Jika creative sudah jenuh, conversion rate rendah, atau tracking tidak lengkap, pengurangan budget hanya mengurangi volume.

        Di sinilah pembicaraan tentang CAC atau customer acquisition cost menjadi lebih luas. Yang perlu diperbaiki bukan hanya biaya iklan, tetapi keseluruhan proses yang menghasilkan pelanggan.

        Apa Itu Growth Marketing Agency?

        Growth marketing agency adalah agency yang menghubungkan berbagai fungsi marketing untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Fokusnya bukan pada satu channel, tetapi pada bagaimana channel tersebut bekerja bersama sepanjang proses akuisisi.

        Layanannya dapat mencakup:

        • Performance marketing untuk menjalankan dan mengoptimalkan paid acquisition.
        • Performance creative untuk menguji pesan, format, dan konsep iklan.
        • Funnel dan CRO untuk meningkatkan conversion setelah traffic masuk.
        • Data dan analytics untuk membaca performa dan menemukan peluang optimasi.
        • Growth strategy untuk mengevaluasi channel, positioning, dan peluang ekspansi.

        Yang membedakan bukan sekadar jumlah layanan tersebut. Hubungan antaraktivitasnya yang menjadi penting.

        Iklan dapat menghasilkan traffic, tetapi landing page menentukan berapa banyak yang melakukan konversi. Creative dapat menarik perhatian, tetapi data menunjukkan pesan mana yang layak dikembangkan lebih lanjut.

        Model seperti ini juga menjadi pendekatan GTMLab. Layanannya menggabungkan performance marketing, performance creative, funnel dan CRO, data dan analytics, serta GTM & Growth Lab.

        Apa yang Berubah dari Model Agency Sebelumnya?

        Perubahan ini bukan berarti model agency tradisional sudah tidak relevan. Perbedaannya lebih terlihat pada cara perusahaan membutuhkan agency untuk bekerja.

        Dari Deliverables ke Business Outcomes

        Dalam model berbasis deliverables, pekerjaan biasanya dibagi berdasarkan output. Misalnya, campaign, creative, media buying, atau laporan bulanan.

        Growth marketing melihat aktivitas tersebut dalam konteks hasil bisnis. Pertanyaannya berubah menjadi: apa yang terjadi setelah output tersebut digunakan?

        Sebuah iklan bisa mendapatkan banyak clicks. Namun, jika leads yang masuk sedikit atau tidak berkualitas, performanya tetap perlu dipertanyakan.

        Dari Channel Terpisah ke Funnel yang Terhubung

        Paid media, landing page, creative, dan conversion sering ditangani oleh tim berbeda. Pembagian ini dapat membuat setiap bagian terlihat baik secara individual.

        Masalahnya muncul ketika hasil akhirnya tidak sesuai target. Sulit mengetahui apakah masalahnya ada di iklan, offer, landing page, atau proses setelah leads masuk.

        Growth marketing mencoba melihat proses tersebut sebagai satu rangkaian. Data dari satu bagian dapat menjadi masukan untuk memperbaiki bagian lainnya.

        Dari Campaign Sekali Jalan ke Eksperimen Berkelanjutan

        Campaign tidak selalu menghasilkan jawaban yang sempurna sejak awal. Performa creative, audience, dan channel perlu terus diuji.

        Karena itu, eksperimen menjadi bagian penting dalam model growth. Hasil campaign sebelumnya dapat menentukan apa yang diuji berikutnya.

        Bagaimana Growth Marketing Membantu Mengendalikan CAC?

        Menurunkan CAC bukan berarti selalu mencari media dengan harga paling murah. Ada beberapa titik lain yang dapat memengaruhi biaya mendapatkan pelanggan.

        Creative yang Mulai Jenuh

        Creative yang sudah digunakan berulang kali dapat kehilangan efektivitasnya. Salah satu cara mengatasinya adalah menguji variasi angle, hook, visual, dan format secara berkala.

        Hasil pengujian tersebut kemudian dapat menunjukkan pesan yang lebih relevan bagi audience tertentu.

        Conversion Rate yang Rendah

        Traffic berbayar menjadi kurang efisien ketika terlalu sedikit pengunjung yang melakukan tindakan berikutnya.

        Perubahan pada landing page, offer, form, atau customer journey dapat memengaruhi hasil tanpa harus menambah media spend.

        Data yang Tidak Terhubung

        Data campaign tidak selalu menggambarkan hasil bisnis secara lengkap. Clicks dan leads belum tentu menunjukkan berapa banyak pelanggan yang akhirnya menghasilkan revenue.

        Karena itu, measurement perlu menghubungkan aktivitas marketing dengan metrik bisnis yang relevan. Gartner juga menekankan pentingnya pengukuran full-funnel, bukan hanya last-click attribution.

        Channel yang Tidak Sesuai

        Setiap channel memiliki karakter audience dan peran berbeda. Channel dengan traffic murah belum tentu menghasilkan pelanggan yang paling bernilai.

        Pengujian membantu perusahaan memahami channel mana yang layak mendapatkan lebih banyak budget. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk mengalokasikan kembali investasi marketing.

        Mengapa Model Agency Ini Mulai Menarik bagi Perusahaan?

        Perubahan model ini juga berkaitan dengan cara perusahaan mengelola vendor. Semakin banyak fungsi yang tersebar di berbagai agency, semakin besar kebutuhan untuk mengoordinasikan pekerjaan tersebut.

        Data Gartner 2025 menunjukkan 39% CMO berencana mengurangi budget untuk agency. Salah satu langkah yang disebut adalah menyederhanakan jumlah agency dan menghilangkan hubungan agency yang dianggap tidak produktif.

        Angka tersebut tidak berarti perusahaan berhenti menggunakan agency. Justru, perusahaan menjadi lebih selektif terhadap jenis pekerjaan yang mereka outsource dan nilai yang dihasilkan.

        Model yang menggabungkan beberapa fungsi growth dalam satu partner dapat menjadi salah satu respons terhadap kebutuhan tersebut.

        Perusahaan tidak perlu selalu menambah vendor untuk setiap masalah. Dalam situasi tertentu, satu tim dengan cakupan kemampuan yang lebih luas dapat membuat proses pengujian dan optimasi lebih terkoordinasi.

        Kapan Perusahaan Perlu Mempertimbangkan Growth Marketing Agency?

        Tidak semua bisnis membutuhkan model ini sejak awal. Kebutuhannya biasanya mulai terlihat ketika aktivitas marketing sudah berjalan, tetapi pertumbuhannya menghadapi hambatan tertentu.

        Beberapa tandanya antara lain:

        • Budget paid media sudah cukup besar, tetapi CAC terus meningkat.
        • Leads bertambah, tetapi kualitasnya tidak konsisten.
        • Creative rutin diproduksi, tetapi performanya mulai stagnan.
        • Traffic website tinggi, tetapi conversion rate masih rendah.
        • Data marketing tersedia, tetapi sulit dikaitkan dengan revenue.
        • Media, creative, dan funnel ditangani oleh vendor yang berbeda.

        Situasi tersebut menunjukkan bahwa masalahnya mungkin bukan kurangnya aktivitas.

        Bisa jadi, bagian-bagian yang sudah berjalan belum cukup terhubung satu sama lain.

        Apa yang Perlu Dilihat Saat Memilih Growth Marketing Agency?

        Memilih agency tidak cukup dengan melihat daftar layanan. Cara mereka bekerja juga perlu diperhatikan.

        1. Metrik Apa yang Digunakan?

        Agency seharusnya dapat menjelaskan hubungan antara aktivitas marketing dan target bisnis. Metriknya dapat berbeda untuk setiap perusahaan.

        Yang penting, pengukurannya tidak berhenti pada impressions, clicks, atau leads jika tujuan akhirnya adalah revenue.

        2. Bagaimana Eksperimen Dilakukan?

        Growth membutuhkan proses testing yang jelas. Tanyakan bagaimana agency menentukan hipotesis, menjalankan eksperimen, membaca hasil, dan menggunakan pembelajarannya.

        Tanpa proses tersebut, eksperimen mudah berubah menjadi sekadar mencoba berbagai campaign.

        3. Apakah Creative Terhubung dengan Performance?

        Creative yang bagus tidak hanya terlihat menarik. Performa creative juga dapat memberikan informasi tentang audience dan pesan yang paling relevan.

        Karena itu, creative dan media sebaiknya tidak berjalan sebagai dua fungsi yang sepenuhnya terpisah.

        4. Seberapa Dalam Agency Memahami Funnel?

        Masalah acquisition tidak selalu berada di iklan. Agency perlu memahami apa yang terjadi setelah seseorang mengklik iklan.

        Landing page, conversion, qualification, hingga revenue dapat memengaruhi hasil akhir campaign.

        5. Apakah Strategi Berubah Berdasarkan Data?

        Data seharusnya memengaruhi keputusan berikutnya. Jika laporan hanya menunjukkan apa yang sudah terjadi, nilainya lebih terbatas untuk proses growth.

        Partner growth yang baik perlu dapat menjelaskan apa yang dipelajari dan apa yang akan dilakukan berikutnya.

        Growth Marketing Bukan Sekadar Cara Menghemat Budget

        Ada perbedaan antara mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi.

        Mengurangi budget memang dapat menurunkan pengeluaran. Namun, jika proses akuisisinya masih memiliki masalah, perusahaan hanya mendapatkan volume yang lebih kecil dari sistem yang sama.

        Growth marketing mengambil pendekatan yang berbeda. Fokusnya adalah menemukan bagian mana yang menghambat pertumbuhan, mengujinya, lalu mengalokasikan sumber daya berdasarkan hasilnya.

        Pendekatan GTMLab melalui GTMLab Growth Lab juga berangkat dari proses tersebut. Fokusnya mencakup pengujian channel, positioning, dan peluang ekspansi sebagai bagian dari proses growth.

        Pada akhirnya, tekanan terhadap marketing budget kemungkinan akan membuat perusahaan semakin kritis terhadap cara mereka membeli jasa agency. Bukan hanya soal berapa banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan, tetapi seberapa jelas pekerjaan tersebut membantu perusahaan menemukan dan memperbesar sumber pertumbuhan.

        Itulah ruang yang mulai diisi oleh growth marketing agency: bukan sekadar menjalankan lebih banyak campaign, tetapi membuat proses akuisisi lebih terukur, terhubung, dan terus berkembang.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: