Bukan Popularitas, Elizabeth Sebut Kepercayaan Kunci Personal Branding
Kredit Foto: Elizabeth Setiaatmadja
Strategist Networking Advisor & Partner, Elizabeth Setiaatmadja, menilai personal branding yang kuat tidak dibangun dari popularitas di media sosial, melainkan dari kepercayaan (trust), konsistensi, dan kemampuan menjalin hubungan yang tulus.
Pandangan tersebut disampaikannya dalam Indonesia Digital Marketing Conference (IDMC) 2026 di ICE BSD saat membahas strategi membangun reputasi profesional yang mampu menciptakan peluang bisnis dan karier.
Menurut Elizabeth, masih banyak orang yang memaknai personal branding sebatas upaya untuk terlihat menonjol di ruang digital. Padahal, personal branding merupakan persepsi yang terbentuk ketika nama seseorang disebut oleh orang lain.
"Orang tidak hanya membeli produk atau jasa. Mereka membeli kepercayaan kepada orang di balik produk tersebut," ujar Elizabeth dalam keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026).
Ia menjelaskan, kepercayaan merupakan fondasi utama yang dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti menepati janji, menjaga komitmen, dan memperlakukan orang lain dengan baik dalam setiap interaksi.
Selain trust, Elizabeth menyoroti pentingnya networking sebagai aset strategis dalam membangun reputasi. Namun, ia menegaskan networking tidak sekadar memperluas daftar relasi atau mengumpulkan kartu nama.
"Ketika bertemu orang baru, jangan berpikir apa yang bisa kita dapatkan dari mereka. Pikirkan apa yang bisa kita bantu dan berikan kepada mereka," katanya.
Baca Juga: Medco Energi Tebar Dividen US$87 Juta, Dividen Final Cair 3 Juli 2026
Menurutnya, hubungan yang dibangun atas dasar ketulusan cenderung menghasilkan peluang yang lebih besar dan berkelanjutan dibandingkan relasi yang hanya didorong oleh kepentingan jangka pendek.
Dalam kesempatan tersebut, Elizabeth juga mendorong para profesional dan pelaku usaha untuk aktif membagikan wawasan, pengalaman, serta solusi kepada publik sebagai bagian dari upaya membangun kredibilitas.
"Kalau ingin dikenal sebagai ahli, jangan hanya menunjukkan penghargaan atau pencapaian. Bagikan juga wawasan, pengalaman, dan solusi yang bisa membantu orang lain," ujarnya.
Ia menambahkan, personal branding yang efektif harus selaras dengan karakter asli seseorang karena audiens kini semakin kritis dalam menilai autentisitas.
Elizabeth menilai reputasi dan kepercayaan akan menjadi faktor pembeda utama di tengah persaingan yang semakin ketat dan perkembangan teknologi yang membuat produk maupun layanan lebih mudah ditiru.
"Produk bisa ditiru, teknologi bisa disamai, tetapi reputasi dan trust yang dibangun selama bertahun-tahun akan menjadi aset yang sangat berharga," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Istihanah
Tag Terkait: