Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Investor Global Lirik Energi Bersih, RI Bisa Tertinggal dari Vietnam-Malaysia

        Investor Global Lirik Energi Bersih, RI Bisa Tertinggal dari Vietnam-Malaysia Kredit Foto: PLN
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indonesia berisiko kehilangan daya saing dalam menarik investasi hijau apabila terlambat membangun sistem energi berbasis listrik bersih. Direktur INDEF Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, mengatakan perubahan arah investasi global membuat negara-negara mulai berlomba menyediakan energi bersih sebagai faktor penentu daya tarik industri.

        “Kalau misalnya Indonesia tidak bergeser kepada model electrostate (negara yang mengandalkan elektrifikasi atau sistem energi berbasis listrik), maka kita akan kehilangan daya saing dan tidak mengherankan kalau misalnya investasi memilih masuk ke Malaysia, investasi akan masuk ke Vietnam,” ujar Imaduddin dalam diskusi transisi energi di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

        Menurut dia, dunia saat ini mulai bergerak dari negara yang mengandalkan bahan bakar fosil menuju negara yang mengandalkan elektrifikasi dan energi bersih.

        Imaduddin mengatakan akses terhadap listrik bersih (clean electricity) kini menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan perusahaan global dalam menentukan lokasi investasi.

        “Ada dua perusahaan besar dunia, Tesla dan Samsung, yang menyampaikan bahwa akses terhadap clean electricity ini menjadi salah satu faktor untuk mereka menentukan tujuan investasinya,” lanjut Imaduddin.

        Dalam paparan INDEF-GTI, akses terhadap listrik bersih disebut berpengaruh terhadap keputusan investasi, daya saing ekspor, dan biaya energi industri. 

        Berdasarkan analisis INDEF-GTI, percepatan elektrifikasi berpotensi mendorong masuknya investasi sekitar US$56 miliar selama periode 2025–2035. Investasi tersebut mencakup sektor manufaktur teknologi bersih, baterai, kendaraan listrik, energi surya, elektrifikasi sektor pengguna akhir, hingga pengembangan industri pendukung. 

        Dari total peluang investasi tersebut, sekitar US$30 miliar berasal dari sektor manufaktur teknologi bersih, termasuk baterai, kendaraan listrik, dan panel surya (solar PV). 

        Namun, Imaduddin menilai tantangan Indonesia tidak hanya menarik investasi masuk, tetapi juga memastikan investasi tersebut memberikan dampak lebih besar terhadap industri domestik.

        Menurut dia, hilirisasi perlu diarahkan pada pendalaman industri dengan membangun keterkaitan antara industri utama dan pemasok lokal.

        Baca Juga: DPR Sebut PLTN Bisa Jadi Solusi Pasokan Energi Bersih untuk Data Center

        Baca Juga: Kadin Minta Sarmuji Selektif Bendung Impor, Industri Lokal Jadi Prioritas

        “Kuncinya ke depan itu perlu mengintegrasikan antara industri yang dibangun di dalam negeri, hilirisasi itu, dengan supplier lokal,” jabarnya.

        Ia menjelaskan, semakin berkembangnya industri hilir, kebutuhan tidak hanya berasal dari bahan baku utama, tetapi juga membutuhkan berbagai komponen pendukung yang dapat dipasok oleh industri dalam negeri.

        “Ketika industri komponen kita siap, mereka bisa men-supply ke sana. Sehingga akhirnya keterkaitan antara industri yang core-nya dengan industri yang mendukung itu bisa sejalan,” tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: