Houthi dan Arab Saudi Memanas, Pemerintah Tegaskan Belum Ada Larangan ke Arab Saudi
Kredit Foto: Antara/Fauzan
Sebanyak 48.734 jemaah umrah Indonesia tercatat berada di Arab Saudi per 14 Oktober 2026. Di tengah meningkatnya ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi, pemerintah memastikan pemantauan keamanan terus dilakukan dan belum mengeluarkan imbauan penundaan maupun larangan perjalanan umrah.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, menyampaikan bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memantau situasi keamanan. Koordinasi tersebut melibatkan KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, Kantor Urusan Haji Indonesia, serta otoritas Arab Saudi.
"Tentu koordinasi terus kita bangun berkaitan dengan situasi di sana bersama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Arab Saudi, ada melalui KBRI kita, KJRI, juga termasuk Kantor Urusan Haji Indonesia dan berkaitan dengan koordinasi bersama dengan otoritas Arab Saudi dalam rangka memantau perkembangan situasi keamanan," ujar Ichsan dalam wawancara KompasTV, Rabu (14/10/2026) malam.
Ichsan menjelaskan, jumlah jemaah yang berada di Arab Saudi bersifat dinamis karena adanya kedatangan dan kepulangan setiap hari. Berdasarkan pemantauan pemerintah, jemaah masih menjalankan ibadah dengan tertib dan tenang. Mereka diminta tetap waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, serta menghindari perjalanan yang tidak mendesak di luar kegiatan ibadah di Makkah dan Madinah.
Dari sisi penerbangan, Sekjen DPP Amphuri, Zaky Zakaria Anshary, mengatakan sebagian besar keberangkatan dan kepulangan melalui Jeddah serta Madinah masih berjalan normal. Namun, sejumlah jemaah mengalami kendala akibat pembatalan penerbangan, terutama mereka yang menggunakan penerbangan transit melalui negara ketiga.
Zaky mencontohkan pembatalan penerbangan Malaysia Airlines sejak 13 Oktober 2026 yang berdampak pada jemaah dari Makassar. Selain itu, jemaah yang menggunakan Hainan Airlines harus memperpanjang masa tinggal selama satu malam di Jeddah karena kendala penerbangan.
Ichsan menambahkan, perjalanan menggunakan penerbangan langsung masih berlangsung normal dan terkendali, dengan keterlambatan yang dilaporkan tidak signifikan. Menurutnya, gangguan lebih banyak terjadi pada penerbangan transit setelah maskapai di negara ketiga membatalkan rute menuju Arab Saudi.
"Sejauh ini belum ada keputusan dari pemerintah untuk mengimbau bahkan melarang perjalanan umrah ke Arab Saudi," katanya.
Pemerintah masih berpegang pada jaminan keamanan dari otoritas Arab Saudi sembari melakukan pemantauan dan mitigasi. Sementara itu, Zaky mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap seluruh wilayah Arab Saudi terdampak hanya karena terjadi serangan di kawasan tertentu, mengingat luasnya wilayah negara tersebut.
Zaky juga menilai minat jemaah untuk berangkat umrah masih terjaga dan pembatalan keberangkatan relatif sedikit. Ia mengutip pernyataan kanal resmi Houthi yang menyebut Makkah, Madinah, serta bandara Jeddah dan Madinah bukan sasaran serangan mereka, melainkan fasilitas militer dan perusahaan minyak.
Baca Juga: Arab Saudi Diguncang Serangan Houthi, Pemerintah Indonesia Beri Pesan Khusus ke Jemaah Umrah
"Jadi insyaallah sih sampai saat ini tentu kerajaan Arab Saudi memprioritaskan juga seluruh jemaahnya," ucapnya.
"Tidak mungkin kerajaan Arab Saudi mengabaikan keselamatan jemaah dari seluruh Indonesia."
Zaky meminta jemaah memahami kemungkinan perubahan jadwal akibat situasi penerbangan. Ia menilai kendala jadwal tidak serta-merta menunjukkan kegagalan penyelenggaraan perjalanan umrah, sementara pemerintah dan penyelenggara tetap memantau perkembangan kondisi di lapangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: