Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Netanyahu dan Eisenkot Bersaing Ketat, Pemilu Israel Dibayangi Perpecahan

        Netanyahu dan Eisenkot Bersaing Ketat, Pemilu Israel Dibayangi Perpecahan Kredit Foto: Reuters/Ronen Zvulun
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemilu legislatif Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (27/10/2026) menjadi ujian politik bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia menghadapi persaingan ketat dari mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot, di tengah masyarakat yang terbelah akibat persoalan keamanan dan pertanggungjawaban atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

        Netanyahu, pemimpin Partai Likud, mengandalkan rekam jejak operasi militer Israel terhadap Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon untuk meyakinkan pemilih. Namun, ia terus menghadapi kritik atas kegagalan keamanan yang memungkinkan serangan Hamas terjadi pada 2023.

        Sebaliknya, Eisenkot yang memimpin Partai Yashar menawarkan kepemimpinan alternatif dengan latar belakang militer. Ia juga berjanji mendorong penyelidikan independen terhadap kegagalan keamanan tersebut. Putranya tewas saat bertugas dalam perang di Gaza, sebuah pengalaman yang turut menjadi perhatian publik.

        Perbedaan pandangan terlihat di kalangan masyarakat Israel. Danny Mazjner, warga Israel-Australia yang kehilangan saudara perempuannya dalam serangan 7 Oktober di Kibbutz Be'eri, menilai Netanyahu seharusnya bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.

        “Namun, tiga tahun kemudian dia masih berkuasa dan memiliki peluang besar untuk kembali memimpin. Saya benar-benar tidak habis pikir,” ujar Mazjner.

        Sebaliknya, Yitro Ahseri, warga Israel-Australia yang tinggal di permukiman Itamar, mendukung Netanyahu. Ia menilai respons militer pemerintah setelah serangan tersebut menunjukkan kemampuan Netanyahu menjaga keamanan Israel.

        Baca Juga: Konflik Arab Saudi dan Houthi Memanas, Serangan Udara Tewaskan Warga Yaman

        “Dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk Israel,” kata Ahseri.

        Pandangan serupa disampaikan Rachel Vaknin, warga Ashdod yang masih mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Ia menilai Netanyahu merupakan pemimpin yang dapat memberikan rasa aman di tengah konflik berkepanjangan.

        “Dia lebih kuat daripada para pemimpin lainnya,” ujar Vaknin.

        Analis Amotz Asa-El menilai keamanan menjadi pertimbangan utama pemilih dalam menentukan pilihan. Menurutnya, masyarakat ingin mengetahui bagaimana kegagalan serangan 7 Oktober bisa terjadi dan bagaimana pemerintah menangani konflik setelahnya.

        Jajak pendapat menjelang pemilu menunjukkan persaingan ketat antara blok pendukung Netanyahu dan kelompok oposisi yang dipimpin Eisenkot. Namun, kedua kubu diperkirakan kesulitan memperoleh sedikitnya 61 kursi dari total 120 kursi Knesset untuk membentuk mayoritas pemerintahan.

        Kondisi tersebut membuka kemungkinan negosiasi koalisi yang panjang, bahkan kebuntuan politik jika tidak ada blok yang mampu mengumpulkan dukungan mayoritas.

        Pemilu kali ini bukan sekadar persaingan antarpolitisi, melainkan juga menjadi ujian kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Netanyahu setelah serangan 7 Oktober 2023. Hasil pemungutan suara akan menentukan arah pemerintahan Israel berikutnya di tengah konflik regional dan perpecahan domestik yang masih berlangsung.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Taufan Bara Mukti
        Editor: Taufan Bara Mukti

        Bagikan Artikel: