Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan jual investor asing di tengah ketidakpastian global dan sejumlah agenda penting pasar modal domestik. Meski demikian, peluang koreksi terbatas tetap terbuka seiring munculnya sinyal teknikal positif.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai IHSG berpotensi mengalami penurunan terbatas setelah koreksi signifikan. Secara teknikal, indeks terindikasi memasuki fase wave (b).
"Secara teknikal, pergerakan IHSG berpotensi mengalami penurunan yang terbatas seiring terdeteksinya wave (b) setelah terjadinya koreksi yang signifikan," ujar Nafan dalam risetnya, Rabu (28/10/2026).
Indikator Stochastic K_D menunjukkan arah positif. Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) masih memberikan sinyal negatif, sementara volume transaksi mengalami penurunan.
Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp708,88 miliar. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, nilai jual bersih asing mencapai Rp124,22 triliun. Adapun kinerja IHSG sejak awal tahun tercatat turun 39,10%.
"Level support IHSG pada 5.192 dan 5.065, sedangkan resistance berada di 5.398 dan 5.524," kata Nafan.
The Fed hingga Reformasi Pasar Modal Jadi Sorotan
Dari sisi global, investor mencermati keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober 2026. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00%.
Namun, inflasi AS sebesar 3,7% pada September, di atas target 2%, membuat arah kebijakan moneter berikutnya tetap menjadi perhatian.
Investor juga menanti laporan keuangan perusahaan teknologi besar AS, seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon, untuk melihat prospek bisnis kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan (cloud computing). Di dalam negeri, kinerja emiten perbankan, termasuk BRIS, BBRI, BBTN, dan BDMN, turut menjadi katalis yang dicermati.
Sementara itu, harga minyak dunia melemah di tengah perkembangan diplomasi terkait konflik AS-Iran. Minyak mentah WTI turun 1,83% menjadi USD99,90 per barel, sedangkan Brent terkoreksi 1,67% ke USD113,88 per barel.
Baca Juga: IHSG Anjlok Hampir 30%, MSIG Life Akui Dana Investasi Ikut Tertekan
Baca Juga: IHSG Sempat Anjlok 3%, Analis Beberkan Pemicu Tekanan Pasar
Baca Juga: IHSG Ambruk Hampir 2%, Rupiah Ikut Loyo ke Rp18.135 per Dolar AS
Di pasar domestik, investor juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026.
Proses komunikasi dengan MSCI serta RUPSLB BEI terkait demutualisasi juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kepercayaan investor dan tata kelola pasar modal dalam jangka panjang.
Menghadapi kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor lebih selektif dalam memilih saham, terutama emiten dengan fundamental solid, valuasi yang dinilai murah (undervalued), serta indikasi pembalikan arah (reversal).
"Fokus pada saham-saham pilihan dengan fundamental yang solid, saham-saham yang dinilai undervalued, serta saham-saham yang menunjukkan indikasi pembalikan arah. Selain itu, terapkan manajemen risiko secara disiplin," tutup Nafan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: