Prof Zainal Arifin Mochtar Turun Aksid dan Berorasi di Yogyakarta: 'Kita Patut Marah, Kita Patut Teriak!!'
Kredit Foto: Ist
Guru Besar Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zainal Arifin Mochtar, mengikuti aksi demonstrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda di Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kawasan Malioboro, Yogyakarta.
Dalam orasinya, Zainal menyoroti persoalan ketimpangan ekonomi dan kaitannya dengan kualitas demokrasi di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kedaulatan dalam demokrasi seharusnya tetap berada di tangan rakyat.
“Ajaran utama bicara demokrasi adalah kedaulatan, tapi tidak pernah pindah dari kita,” ujar Zainal.
Ia kemudian menyinggung kesenjangan kekayaan di Indonesia dengan membandingkan kelompok masyarakat terkaya dengan puluhan juta penduduk lainnya.
“Coba bayangkan 50 orang terkaya di Indonesia, sama dengan 50 juta orang Indonesia,” katanya.
Zainal juga menyinggung besarnya kekayaan Presiden Prabowo Subianto sebagai gambaran ketimpangan ekonomi.
Ia menyebut seseorang membutuhkan waktu hingga dua abad untuk mengumpulkan kekayaan setara dengan kekayaan Prabowo melalui tabungan.
“Ketimpangan, untuk mengejar kekayaan Prabowo Anda butuh dua abad menabung. Kita semua kesulitan, padahal demokrasi, ketimpangan itu yang membunuh demokrasi,” ucapnya.
Dalam orasinya, Zainal menilai ketimpangan ekonomi dapat mempermudah kelompok oligarki memengaruhi penguasa. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi demokrasi dan perlu mendapat perhatian masyarakat.
“Ketimpangan itu yang membuat penguasa lebih mudah bermain dengan oligarki,” katanya.
Zainal mengajak masyarakat menyuarakan kemarahan terhadap ketimpangan dan membangun kembali semangat persatuan melalui momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda.
“Kita patut marah, kita patut teriak, kita patut untuk membangun sumpah kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengkritik kondisi ketika persatuan bangsa hanya menjadi slogan, sementara masyarakat justru terpecah dan kelompok tertentu dinilai memperoleh keuntungan terbesar dari keadaan tersebut.
“Tak ada gunanya bicara berbangsa satu, ketika bangsa kita dipecah, yang memperoleh keuntungan terbesar adalah kaum oligarki,” kata Zainal.
Menutup orasinya, Zainal melontarkan seruan agar kekuasaan tidak berjalan dengan sikap arogan dan tetap tunduk pada kehendak rakyat.
“Runtuhkan kekuasaan yang sombong ini. Harus bertekuk lutut pada keinginan kita. Revolusi!!!” serunya.
Orasi tersebut menjadi bagian dari aksi demonstrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta. Dalam penyampaiannya, Zainal menempatkan persoalan ketimpangan ekonomi, pengaruh oligarki, dan kedaulatan rakyat sebagai isu utama yang perlu diperjuangkan dalam kehidupan demokrasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: