Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dampak Pelemahan Rupiah: Barang Impor Mahal, Daya Beli Merosot

        Dampak Pelemahan Rupiah: Barang Impor Mahal, Daya Beli Merosot Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, apabila berlangsung dalam waktu lama. Diketahui mata uang Garuda kini berada dalam level psikologis di atas Rp18.000.

        Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengingatkkan dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, tetapi juga rumah tangga melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

        Ia khawatir, tekanan tersebut berisiko mempersempit ruang keuangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lain di luar pengeluaran pokok.

        Josua menjelaskan, pelemahan rupiah membuat harga barang impor, bahan baku industri, obat-obatan, perangkat elektronik, hingga komponen produksi dari luar negeri menjadi lebih mahal. Ketika harga minyak dunia juga tinggi, tekanan bertambah melalui kenaikan biaya energi, transportasi, dan distribusi barang.

        "Bagi kelas menengah, kombinasi kenaikan biaya hidup dan pendapatan yang tidak bertambah sebanding dapat mengurangi kemampuan untuk menabung, berinvestasi, maupun membiayai kebutuhan jangka panjang. Pengeluaran untuk konsumsi nonpokok juga berpotensi ditekan agar rumah tangga tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar," ujarnya dalam wawancara, Rabu (28/10/2026).

        Jika kondisi ini meluas, kesempatan pertumbuhan usaha dan penciptaan lapangan kerja dapat ikut terpengaruh, sehingga pemulihan pendapatan masyarakat menjadi lebih menantang.

        Josua memperkirakan, pemerintah masih dapat menahan sebagian dampak melalui pengaturan harga energi dan subsidi. Namun, langkah tersebut berpotensi menambah beban anggaran negara apabila tekanan harga minyak dan nilai tukar berlangsung lama.

        Baca Juga: Rupiah Makin Terpuruk, BI Beberkan Penyebabnya

        Baca Juga: Airlangga Sebut Pelemahan Rupiah Bisa Tambah Daya Saing Ekspor Indonesia

        Josua menilai, risiko utama yang perlu diwaspadai bukan semata-mata rupiah menembus rekor terlemah, melainkan apabila depresiasi berlangsung terus-menerus hingga mengganggu ekspektasi inflasi, kepercayaan investor, dan stabilitas pembiayaan ekonomi.

        "Dalam kondisi tersebut, tekanan terhadap biaya hidup dan kegiatan usaha dapat semakin besar," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: