Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Peringatan Profesor NTU: Jangan Remehkan Singapura, Tak Punya Sumur Minyak Tapi Eksportir Terbesar

        Peringatan Profesor NTU: Jangan Remehkan Singapura, Tak Punya Sumur Minyak Tapi Eksportir Terbesar Kredit Foto: Reuters/Edgar Su
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Akademisi memberikan peringatan di tengah memanasnya sentimen nasionalisme terkait konflik pasokan gas dan kabut asap antara Indonesia dan Singapura.

        Professor of Science, Technology, and Society Sociology Programme Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir mengingatkan para pemangku kebijakan agar tidak meremehkan kapabilitas ekonomi negara pulau tersebut hanya karena ukurannya yang kecil dan minimnya sumber daya alam.

        Baca Juga: Ulama Terawang Nasib Politik Wapres Gibran: Ini Enggak Lama Lagi, Insya Allah Paling 2 Bulan Lah

        Sulfikar membedah kecerdasan strategis negara tersebut mampu menyulap kelemahannya menjadi kekuatan dominan di pasar global. Meski tidak memiliki satu pun sumur minyak mentah di wilayah teritorialnya, mereka berhasil membangun arsitektur ketahanan energi dan industri yang membuat negara-negara kaya sumber daya alam justru bergantung kepada mereka.

        “Singapura tidak punya minyak tapi mereka adalah eksportir produk minyak terbesar nomor tiga di dunia,” ungkap Sulfikar dikutip Kamis (29/10/2026).

        Keberhasilan ini didorong oleh kapasitas kilang dan fasilitas pengolahan bernilai tambah tinggi (value-added) yang dimiliki Singapura.

        Negara tersebut menerapkan strategi mengimpor minyak mentah secara masif, menyimpannya dalam cadangan strategis, mengolahnya menjadi bahan bakar minyak (BBM) dan produk turunan petrokimia, lalu menjualnya kembali dengan harga tinggi ke negara-negara lain.

        Ironisnya, Indonesia kerap menjadi salah satu pembeli utama produk olahan minyak dari Singapura.

        Sulfikar membeberkan bahwa strategi hilirisasi ekstrem inilah yang membuat industri minyak mampu menyumbang hampir 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura. Fakta empiris ini menjadi tamparan keras bagi negara-negara berkembang yang hanya mengandalkan ekspor komoditas mentah tanpa memiliki kapasitas pengolahan industri yang memadai.

        Peringatan dari akademisi ini membawa pesan penting bagi pemerintahan dari Presiden Prabowo Subianto. Ia mengingatkan bahwa diplomasi ekonomi tidak bisa dimenangkan hanya dengan menutup keran ekspor gas atau melontarkan sentimen emosional.

        Indonesia dituntut untuk membalasnya dengan memperkuat fondasi hilirisasi domestik dan menjaga iklim investasi. Menyikapi rentetan polemik dari karhutla hingga fluktuasi pasar modal, hubungan kedua negara harus dikembalikan pada koridor kerja sama yang saling menguntungkan, bukan saling meremehkan.

        Diketahui sebelumnya, rentetan peristiwa antara pemangkasan ekspor gas dan kritik tajam soal kabut asap diyakini menjadi penyebab ketegangan dari Singapura dan Indonesia.

        Diplomat Senior Singapura, Bilahari Kausikan baru-baru ini terang-terangan menyebut manuver pemangkasan ekspor gas ke negaranya sebagai bentuk intimidasi dari Indonesia.

        Sementara Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.

        Baca Juga: Geger Sederet Taipan dan Pengusaha Indonesia Dipanggil Langsung Singapura

        “Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: