Adiknya Prabowo Panik Lihat Nasib IHSG: Kalau Modal Asing Kabur, Rupiah Bisa Tembus Rp22.000
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Ancaman Morgan Stanley Capital International (MSCI) ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dimana mereka membuka opsi untuk menurunkan kasta pasar modal tanah air dari emerging market (pasar negara berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri) memicu kepanikan dalam kalangan elite ekonomi dari Indonesia.
Dikutip Jumat (30/10/2026) Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Adik Kandung Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo secara terbuka menyuarakan kekhawatiran mendalamnya terkait ancaman badai ekonomi yang siap menghantam stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Sayuran dan Buah Saja Beli dari Luar Negeri, Professor NTU: Singapura Jauh Lebih Butuh Indonesia
Hashim memproyeksikan bahwa pengumuman downgrade status tersebut akan memicu kepanikan dan berujung pada aksi jual massal (sell-off) oleh para investor asing di IHSG.
Ia khawatir, jika capital flight atau pelarian modal asing secara besar-besaran ini benar-benar terjadi, fundamental ekonomi nasional akan langsung goyah.
"Kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung bisa Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Ada yang bilang Rp 22.000," ungkap Hashim.
Potensi pelemahan nilai tukar yang ekstrem ini diyakini tidak hanya akan menghancurkan daya beli masyarakat, tetapi juga melipatgandakan beban utang negara. Hashim mengaku telah melakukan pembicaraan serius tingkat tinggi mengenai skenario terburuk ini dengan Bos Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani.
"Saya pernah diskusi sama Pak Rosan. Kalau itu terjadi rupiah bisa Rp 21.000-Rp 22.000, pinjaman luar negeri kita harus kita bayar lebih mahal, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia," tegas Hashim.
Kondisi ini menempatkan otoritas bursa dan pemerintah dalam posisi yang sangat krusial untuk segera mengembalikan kepercayaan investor global sebelum malapetaka ekonomi tersebut benar-benar menjadi kenyataan.
Diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan di tengah penguatan bursa regional. IHSG ambruk 3,49% atau turun 184,25 poin ke posisi 5.098,05 pada akhir perdagangan Kamis (29/10).
Alhasil, bursa tanah air telah anjlok 41,04% sepanjang tahun berjalan alias year to date (ytd). Ini menjadikan pasar saham lokal salah satu yang terburuk di kawasan, ketika sejumlah bursa regional justru mengalami reli.
Baca Juga: Massa Paksa Jokowi Pilih 2 Opsi: Bujuk Gibran untuk Mundur atau Dibuat Malu se-Indonesia
Penurunan drastis ini diawali oleh ancaman downgrade dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Selain itu, tekanan makroekonomi dalam negeri juga belum mereda di Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar