Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Investasi Rp15 Triliun, Chandra Asri Bangun Bisnis Baru di Luar Petrokimia

        Investasi Rp15 Triliun, Chandra Asri Bangun Bisnis Baru di Luar Petrokimia Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA atau Chandra Asri Group mulai memperluas bisnisnya ke sejumlah sektor di luar petrokimia. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap industri petrokimia yang memiliki siklus bisnis cukup tajam, sekaligus mencari sumber pendapatan baru yang lebih stabil.

        Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri, Suryandi mengatakan perusahaan kini mengembangkan tiga pilar bisnis utama, yakni Energi dan Kimia, Infrastruktur Terintegrasi, serta Solusi Mobilitas.

        Menurut dia, diversifikasi diperlukan karena bisnis petrokimia sangat dipengaruhi pergerakan harga minyak dan keseimbangan pasokan serta permintaan global. Kondisi tersebut bisa menekan margin perusahaan ketika terjadi gejolak pasar.

        "Chandra Asri saat ini sudah mendiversifikasi usahanya bukan cuma di petrokimia, tapi juga menyangkut energi. Lalu kemudian ada infrastruktur. Infrastruktur apa saja? Ada listrik, air, tangki, kapal, dan warehouse," kata Suryandi dalam Diskusi Forwin bertema Transformasi Chandra Asri: Memperkuat Daya Saing Industri, Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan di Jakarta Selatan, Senin (2/11/2026).

        Dia berharap berbagai lini usaha tersebut dapat menjadi sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan sehingga kinerja perusahaan tidak terlalu bergantung pada siklus industri petrokimia.

        Baca Juga: Chandra Asri Catat Penjualan US$8,2 Miliar hingga September 2026

        Transformasi bisnis tersebut turut mendorong peningkatan kapasitas produksi Chandra Asri. Pada 2026, kapasitas produksi perusahaan mencapai 17,6 juta ton, meningkat dari sekitar 4,4 juta ton pada 2023-2024. Angka itu ditargetkan bertambah menjadi sekitar 21 juta ton pada 2027.

        Salah satu proyek yang mendukung ekspansi tersebut adalah pengembangan fasilitas Condensate Splitter Unit serta fasilitas kimia dasar Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC).

        Proyek CA-EDC memiliki nilai investasi sekitar Rp15 triliun. Hingga November 2026, progres pembangunannya telah mencapai 85% dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027.

        Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 400.000 ton caustic soda dan 500.000 ton ethylene dichloride (EDC) per tahun. Kedua produk kimia ini dibutuhkan berbagai sektor industri, mulai dari pengolahan alumina dan nikel hingga konstruksi serta produk kebutuhan rumah tangga.

        Dalam proyek tersebut, Chandra Asri menggandeng Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) sebagai mitra pemegang saham. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat pasokan bahan baku kimia domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

        Di luar Indonesia, ekspansi juga dilakukan melalui akuisisi aset kilang dan petrokimia milik Shell pada 2025. Aset tersebut kini beroperasi melalui Aster dan menjadi bagian dari penguatan bisnis energi dan kimia perusahaan di Singapura.

        Perluas Bisnis Infrastruktur dan Mobilitas

        Pilar kedua yang dikembangkan Chandra Asri adalah Infrastruktur Terintegrasi. Bisnis ini mencakup penyediaan listrik, air, tangki penyimpanan, kapal, pergudangan, hingga layanan logistik.

        Pengembangan infrastruktur tidak hanya ditujukan untuk menopang operasional bisnis utama, tetapi juga membuka peluang pendapatan dari layanan kepada sektor industri lainnya.

        Sepanjang 2026, perusahaan memperkuat bisnis logistik dengan mengoperasikan dua kapal kimia, yakni Novah dan Boreas. Masing-masing kapal memiliki kapasitas 9.000 DWT.

        Chandra Asri juga mengembangkan layanan offshore melalui kapal Elara Dalimbar 1. Secara keseluruhan, perusahaan kini mengoperasikan 15 kapal untuk mendukung pengangkutan gas, bahan kimia cair, dan kebutuhan offshore.

        Selain armada kapal, perusahaan memperoleh konsesi pelabuhan kimia cair bersama KSOP Kelas I Banten. Chandra Asri juga meresmikan tiga tangki penyimpanan bitumen dengan kapasitas gabungan 15.000 meter kubik.

        Sementara itu, melalui pilar Solusi Mobilitas, perusahaan memperluas bisnis ke sektor distribusi bahan bakar dan otomotif di Singapura.

        Portofolio tersebut mencakup jaringan SPBU Esso serta bisnis distribusi kendaraan melalui Cycle & Carriage. Dengan demikian, bisnis perusahaan tidak hanya bergerak pada produksi bahan kimia dan penyediaan infrastruktur, tetapi juga menjangkau rantai pasok energi dan layanan kendaraan.

        Untuk menopang operasional ketiga pilar bisnis, Chandra Asri turut mengembangkan PT Chandra Asri Central Solusi sebagai pusat layanan bersama atau shared services.

        Entitas tersebut menyediakan layanan keuangan, sumber daya manusia, pengadaan, layanan pelanggan, operasional pelanggan, hingga teknologi informasi. Saat ini, perusahaan telah mempekerjakan hampir 200 orang dan menargetkan kapasitas tenaga kerja sekitar 300 orang.

        Pendapatan Tembus US$8,2 Miliar

        Ekspansi dan diversifikasi bisnis tersebut turut tercermin dalam kinerja keuangan Chandra Asri sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

        Perusahaan membukukan pendapatan sekitar US$8,2 miliar, meningkat dibandingkan sekitar US$5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

        EBITDA juga berbalik positif menjadi hampir US$1 miliar, dari sebelumnya negatif US$32 juta. Adapun laba bersih mencapai US$395 juta, berbalik dari kerugian US$153 juta pada periode yang sama tahun lalu.

        Perbandingan kinerja tersebut telah memperhitungkan penyesuaian atas pencatatan negative goodwill sekitar US$1,7 miliar yang berasal dari transaksi akuisisi aset Shell pada 2025. Penyesuaian ini merupakan keuntungan akuntansi yang terjadi satu kali, sehingga perlu diperhitungkan ketika membandingkan kinerja operasional perusahaan.

        Baca Juga: Barito Pacific Raup Pendapatan US$8,69 Miliar per September 2026

        Baca Juga: OJK Denda Rp2,1 Triliun ke Grup Sinar Mas dan Barito Pacific

        Di sisi lain, ekspansi bisnis juga dibarengi dengan target penyerapan tenaga kerja. Chandra Asri menargetkan dapat merekrut hingga 1.000 pekerja baru secara bertahap sampai 2028, seiring pengembangan fasilitas CA-EDC, shared services, dan proyek bisnis lainnya.

        Perusahaan turut mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui Politeknik Industri Petrokimia Banten, program pemberdayaan 20 UMKM, serta beasiswa yang telah menjangkau lebih dari 1.000 penerima manfaat.

        Dalam aspek lingkungan, Chandra Asri menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89% pada 2030 dibandingkan baseline 2018. Hingga saat ini, intensitas emisi perusahaan telah turun 14,6% dari baseline tersebut melalui sejumlah inisiatif efisiensi energi, pemanfaatan energi baru terbarukan, ekonomi sirkular, dan pengelolaan limbah.

        Suryandi mengatakan pengembangan tiga pilar bisnis tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat fundamental usaha, memperluas ekspansi, menciptakan lapangan kerja, serta memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri hilir di Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: