Gus Nur Bongkar Borok Mahfud MD: Dulu Bela Mati-Matian, Sekarang Baru Berani Sok Kritis!
Kredit Foto: Istimewa
Sugi Nur Raharja alias Gus Nur melontarkan sindiran kepada mantan Menko Polhukam Mahfud MD setelah mengkritik Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan menyebut lembaga tersebut harus diseret ke pengadilan.
Gus Nur mengklaim persoalan KPU dan demokrasi sudah lama menjadi bahan kritiknya, bahkan sejak 2018. Namun, ia mempertanyakan sikap Mahfud yang saat itu masih berada di dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Ia bahkan menyebut Mahfud pernah menjadi bagian dari kelompok yang diistilahkannya sebagai 'ternak Mulyono', sebutan yang diarahkan kepada para pendukung Jokowi.
"Pak Mahfud MD, apa yang anda katakan hari ini, (KPU harus diseret ke pengadilan. Ini adalah perusakan terhadap peradaban). Itu sudah saya serukan, sudah saya teriakkan dari tahun 2018. Ya, sudah saya teriakkan," ujar Gus Nur, dikutip, Minggu (1/11/2026).
Gus Nur kemudian mengungkit posisi Mahfud ketika masih menjadi pejabat pemerintahan. Ia juga menyinggung momen Mahfud mengenakan pakaian putih menjelang agenda pelantikan dalam kontestasi politik.
"Waktu itu anda bergabung ke rezim, waktu itu anda masih jadi pejabat. Bahkan kalau boleh saya katakan, mohon maaf kalau tidak sopan, waktu itu anda juga salah satu ternak Mulyono," tukasnya.
"Ya kan, masih ingat di kepala kita semua betapa Anda waktu itu dengan gagah, berani, sudah bawa baju putih, mau dilantik jadi wapres atau apa itu lupa saya," ucap dia.
Menurut Gus Nur, perubahan sikap sejumlah pejabat setelah tidak lagi berada di pemerintahan menjadi pelajaran penting. Ia menilai jabatan dan kedekatan dengan penguasa dapat membuat seseorang kehilangan konsistensi dalam menyampaikan kritik.
"Ini pelajaran untuk semua pejabat ya, untuk semua orang-orang yang seperti Pak Mahfud MD ini ya, seperti Rocky Gerung, Mahfud MD, siapa lagilah," jelasnya.
Ia pun mengingatkan para pejabat, aparat, hakim, dan tokoh publik agar tidak terjebak kepentingan jabatan maupun menjadi pendukung tanpa sikap kritis terhadap kekuasaan.
"Bahwa sudahlah, kalau posisi ya oposisi, dunia akhirat jadi oposisi ya kan? Pokoknya intinya jangan jadi penjilat gitu loh, ya kan?" tegasnya.
Gus Nur juga menyindir tokoh yang menurutnya tetap berusaha menjaga kedekatan dengan penguasa meskipun sudah tidak menjabat. Ia mencontohkan fenomena perpindahan dukungan politik yang disebutnya terjadi demi memperoleh posisi di pemerintahan.
"Bahkan ketika Anda tidak menjabat pun ya, kan Anda masih menjilat, masih memuji-muji rezim supaya Anda dapat jabatan. Kutu loncat kayak Ngabalin, ya kan," timpalnya.
Meski melontarkan kritik keras, Gus Nur mengakui pernyataan Mahfud mengenai KPU tetap lebih baik daripada tidak menyampaikan kritik sama sekali. Ia mengaku hanya merasa geli melihat sikap yang dinilainya berbeda antara masa jabatan dan setelah tidak lagi berkuasa.
"Ya enggak apa-apa sih daripada enggak bersuara sama sekali kan begitu. Enggak apa-apa saya hanya geli saja," bebernya.
Baca Juga: Mahfud MD Sebut Putusan MA soal Suket Ijazah Gibran Berlaku Surut, Ini Alasannya
Di akhir pernyataannya, Gus Nur mengklaim selama ini tetap berusaha menyuarakan kritik meskipun bukan pejabat, akademisi, ekonom, maupun pengamat politik.
"Saya hanya mengingatkan bahwa saya alhamdulillah. Doakan saya istiqomah walaupun saya bukan pejabat, saya bukan akademisi, saya bukan ekonom, saya bukan pengamat politik," tandasnya.
"Paling tidak saya adalah salah satu rakyat yang berdaulat yang menyuarakan kebenaran yang tidak korupsi," kuncinya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: