Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengungkapkan kondisi perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan. Pelemahan nilai tukar rupiah, gejolak pasar saham, hingga meningkatnya arus modal keluar menjadi sejumlah tantangan yang mewarnai perekonomian domestik memasuki Oktober 2026.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengatakan stabilitas sistem keuangan Indonesia sepanjang kuartal III-2026 atau periode Juli-September masih terjaga. Kondisi tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekonomi domestik yang solid, intermediasi keuangan yang tetap terjaga, serta koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Meski demikian, tekanan terhadap stabilitas keuangan kembali meningkat memasuki Oktober 2026. Situasi ini tidak terlepas dari memburuknya kondisi eksternal, terutama eskalasi konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi global, serta arah kebijakan moneter negara-negara utama yang cenderung lebih ketat.
"Di tengah tekanan tersebut, fundamental ekonomi Indonesia dan respons kebijakan yang adaptif mampu menjaga stabilitas sistem keuangan atau SSK kita," ujar Suahasil dalam konferensi pers hasil rapat berkala KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Salah satu tekanan yang menjadi perhatian KSSK adalah perkembangan pasar keuangan domestik. Pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham Indonesia turut mempengaruhi sentimen investor. Bersamaan dengan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kondisi tersebut mendorong peningkatan arus modal keluar dari pasar saham.
Tekanan tersebut terjadi ketika daya tarik aset negara berkembang masih menghadapi tantangan di pasar keuangan global. Investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di negara berkembang atau emerging markets, seiring tingginya ketidakpastian global dan masih kuatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS).
Dari sisi kebijakan moneter, Suahasil menjelaskan sejumlah bank sentral utama, yakni The Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ), telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September 2026.
Kecenderungan suku bunga global yang bertahan tinggi atau higher for longer tersebut berpotensi mempersempit ruang aliran modal menuju negara berkembang. Kondisi ini semakin diperberat oleh imbal hasil atau yield US Treasury yang masih tinggi, sejalan dengan ekspektasi arah kebijakan moneter AS dan besarnya defisit anggaran pemerintah AS.
Di tengah situasi tersebut, KSSK juga menyoroti mengetatkan likuiditas domestik. Kombinasi tekanan eksternal dan kondisi likuiditas dalam negeri menjadi tantangan bagi stabilitas pasar keuangan, terutama ketika investor semakin sensitif terhadap risiko dan perkembangan nilai tukar.
Meski menghadapi berbagai tekanan, pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal III-2026 diperkirakan tetap solid, ditopang terutama oleh permintaan dalam negeri dan kinerja ekspor yang positif.
Lebih lanjut, Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama melalui berbagai stimulus fiskal pemerintah. APBN terus diarahkan sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat, menstabilkan harga pangan dan energi, serta mendukung penciptaan lapangan kerja.
Sementara itu, Suahasil menyebut investasi diperkirakan tetap tumbuh kuat seiring berlanjutnya proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah. Konsumsi pemerintah juga memperoleh dukungan dari percepatan belanja negara dan penyaluran bantuan sosial.
"Sejumlah indikator menunjukkan aktivitas ekonomi masih berada dalam tren ekspansi. Penjualan mobil pada September 2026 tumbuh 28,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan penjualan sepeda motor meningkat 15,4% yoy. PMI Manufaktur Indonesia juga naik dari level 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026," terangnya.
Dengan berbagai perkembangan tersebut, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,4%-5,5% secara tahunan.
Ketahanan ekonomi juga tercermin dari kinerja pasar surat utang negara. Di tengah volatilitas pasar keuangan global selama kuartal III-2026, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih atau net buy Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp28,79 triliun. Kepemilikan investor non residen pun meningkat 3,28% dibandingkan posisi akhir 2025.
Selain itu, selisih imbal hasil atau spread yield SBN seri acuan 10 tahun terhadap US Treasury 10 tahun berada di level 183 basis poin. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar 184 basis poin. Hal ini menunjukkan pasar SBN domestik masih relatif mampu bertahan di tengah tingginya suku bunga global.
Dari sisi fiskal, APBN juga masih memiliki peran penting dalam menjaga momentum ekonomi. Hingga akhir September 2026, pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5% yoy. Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp1.847,7 triliun, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp492,3 triliun.
Baca Juga: Prabowo Panggil KSSK, Bahas Masalah Hambatan Ekspor hingga Efisiensi APBN
Baca Juga: Suahasil Bantah Ada Pajak Baru untuk Transfer Bank dan E-Wallet
Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp2.660,5 triliun atau meningkat 19% yoy. Belanja tersebut digunakan untuk mendukung berbagai program prioritas, mulai dari makan bergizi gratis, bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, hingga subsidi dan kompensasi energi.
Ke depan, KSSK akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan dengan pendekatan forward looking. Koordinasi antara otoritas juga akan diperkuat untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global, sekaligus memastikan kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan tetap berjalan selaras.
Dengan demikian, meskipun tekanan terhadap rupiah dan pasar saham meningkat, pemerintah menilai ketahanan ekonomi domestik masih terjaga. Namun, perkembangan pasar keuangan global, arus modal, dan likuiditas domestik tetap menjadi risiko yang perlu dicermati ke depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra