Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Meski Dihantam Kabut Asap, Beijing Akui Udara Tetap Bersih

Meski Dihantam Kabut Asap, Beijing Akui Udara Tetap Bersih Kredit Foto: Cahyo Prayogo
Warta Ekonomi, Beijing -

Beijing, ibu kota China, berada pada tingkat bahaya kabut asap tertinggi kedua di tengah musim dingin pada Selasa (3/1/2017), namun otoritas kota Beijing mengatakan kualitas udara secara keseluruhan telah meningkat, mengacu pada data tahun lalu.

Ratusan jadwal penerbangan dibatalkan dan jalan raya ditutup di sepanjang China bagian Utara selama musim liburan Tahun Baru yang diketahui rata-rata konsentrasi partikel kecil yang dapat dihirup atau yang dikenal PM2,5 melambung di atas 500 mikrogram per kubik meter di Beijing dan wilayah sekitarnya.

Peringatan polusi udara merupakan hal jamak di China Utara, khususnya selama musim dingin saat kebutuhan akan energi, yang mayoritas dihasilkan dari batu bara, melonjak.

Akan tetapi Biro Perlindungan Lingkungan Kota Beijing mengatakan pada media bahwa konsentrasi PM2,5 turun 9,9 persen di tahun ini menjadi rata-rata 73 mikrogram per kubik meter di ibukota China pada tahun 2016.

Total kondisi langit cerah mencapai 198 hari pada tahun lalu, lebih banyak 12 hari dibandingkan tahun 2015. Bagaimanapun, penghitungan rata-rata PM2,5 masih melampaui standar kualitas udara nasional yang mencapai 109, kata biro.

Beijing juga memotong konsumsi total batubara hingga di bawah 10 juta ton di tahun 2016, turun dari 23 juta ton di tahun 2013. Beijing juga menutup 335 pabrik dan memerintahkan 424.000 kendaraan tua yang menghasilkan polusi ditarik penggunaannya tahun lalu, ujar biro pemberitaan nasional Xinhua.

Kendati ada jeda singkat bebas polusi pada hari Senin, kabut asap kembali ke ibukota China pada hari Selasa, dengan pembacaan PM2,5 kembali pada tingkat berbahaya. Kabut asap diperkirakan bertahan di wilayah tersebut hingga hawa dingin tiba pada 8 Januari mendatang, tutur Xinhua.

Biro Cuaca China juga mengeluarkan tingkat peringatan "merah" untuk pertama kalinya pada hari Selasa, dengan mengatakan bahwa jarak pandang bisa turun di bawah 50 meter di China Utara.

Jarak pandang yang terbatas memicu tiga pelabuhan utama di wilayah Utara menunda bongkar muat hari ini, tutur Biro Keselamatan Maritim.

China sedang berada dalam tahun ketiga "perang melawan polusi udara" yang menargetkan untuk mengubah kerusakan yang terjadi pada udara, tanah, dan air mereka setelah pertumbuhan ekonomi besar-besaran dalam puluhan tahun terkahir.

Kondisi tersebut menciptakan sistem tanggap darurat untuk meredam lalu lintas dan menghentikan operasional pabrik-pabrik serta situs konstruksi saat mengalami kabut asap pekat, dan China juga bersumpah untuk menghukum pihak lokal dan perusahaan yang melanggar peraturan tersebut.

Selama "pertarungan" kabut asap pada bulan Desember, penyelidik mengidentifikasi 21 perusahaan yang telah melanggar peraturan.

Selama tahun baru, lebih dari 10 tim inspeksi pergi ke kota-kota di seluruh China Utara dan lebih dari 500 perusahaan dan lokasi konstruksi, serta 10.000 pengemudi dihukum karena pelanggaran, kata Xinhua.

Pada hari Selasa, provinsi yang terdampak paling parah, Hebei, mengatakan enam perusahaan lokal telah melanggar pembatasan darurat selama peringatan terbaru, dengan satu perusahaan menolak untuk diperiksa. (Ant)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Vicky Fadil

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: