Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Incar Minyak Rusia yang Lebih Murah, Sanksi AS Jadi Batu Sandungan

Indonesia Incar Minyak Rusia yang Lebih Murah, Sanksi AS Jadi Batu Sandungan Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia membuka peluang impor minyak dari Rusia. Alasannya sederhana: pasokan ada, harga kompetitif.

"Semua negara ada kemungkinan. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barang ada, yang kedua harganya kompetitif," kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

"Ya kenapa tidak? Amerika saja sekarang sudah membuka untuk Rusia," tambahnya.

Bahlil merujuk pada kebijakan terbaru Washington yang memang sedang ramai diperbincangkan.

Melansir CNBC, Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada 13 Maret mengeluarkan lisensi sementara yang mengizinkan pembelian minyak Rusia yang sudah berada di lautan sebelum 12 Maret, berlaku hanya hingga 11 April dan mencakup sekitar 124 juta barel di 30 titik lokasi.

Baca Juga: Bahlil Sebut APBN Tetap Tangguh Meski Harga Minyak Tembus US$100

Bessent bahkan membuka kemungkinan pelonggaran lebih jauh dengan menyinggung pencabutan sanksi atas ratusan juta barel minyak Rusia yang masih tersanksi di lautan. Tapi ada satu hal yang luput dari pernyataan Bahlil: izin itu tidak otomatis berlaku untuk semua negara.

India, misalnya, mendapat waiver dari AS bukan tanpa proses. Melansir Euronews, izin tersebut merupakan respons darurat atas krisis pasokan, diberikan setelah Washington berbulan-bulan menekan New Delhi untuk mengurangi pembelian minyak Rusia. India diharapkan kembali membeli minyak Amerika begitu krisis mereda.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Fajar Sulaiman