Kredit Foto: Antara/Wahyu Putro A
Pengamat politik dari UIN Jakarta, A Bakir Ihsan, mengatakan peluang Joko Widodo (Jokowi) untuk memenangi pemilihan presiden pada 2019 disebabkan selama empat tahun memerintah Ia mendapatkan nilai positif dari masyarakat serta memiliki kans untuk melanjutkan periode berikutnya.
Bakir menilai peluang Jokowi memenangi pilpres tahun depan menang sangat kuat, terlebih didukung oleh partai besar sebagai pintu masuk pencalonannya.
"Untuk mendekatkan pada kemenangan, Jokowi harus tetap fokus pada penyelesaian agenda yang dijalankan saat ini dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Jokowi juga harus menghindari langkah atau kebijakan yang kontroversial dan tidak produktif,” ujar Bakir di Jakarta, Kamis (26/7/2018).
Lanjutnya, Ia meminta Jokowi dan tim mempertahankan sikap treble untuk mengevaluasi secara objektif terhadap kinerjanya selama ini, baik yang berhasil, belum selesai, ataupun gagal. “Di antara keberhasilan Jokowi yang signifikan adalah di bidang infrastruktur dan penguatan hak-hak warga atas tanah,” tambahnya.
Bakir menjelaskan, posisi Jokowi saat ini hampir sama dengan posisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode kedua. Pada periode akhir jabatannya, Jokowi bisa menutup ruang atau celah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian kuat melalui sosok cawapres yang sinergis.
Bakir malanjutkan, di periode kedua Jokowi perlu meneruskan program penurunan kemiskinan. Angka-angka kemiskinan dari BPS menunjukkan bahwa kemiskinan terbesar ada di daerah pedesaan. Jika pada periode pertama Jokowi sudah membangun infrastruktur pertanian, maka pada periode selanjutnya Jokowi seyogyanya fokus pada petaninya itu sendiri. "Model bimbingan penyuluhan dan penggunaan teknologi pertanian dan bibit-bibit unggul musti diperkuat lagi" tambahnya.
Menurut dia, faktor cawapres bagi Jokowi hanya pendukung, suplemen, bukan penentu. “Karena bukan penentu, Jokowi punya otoritas kuat untuk menentukan wakilnya. Calonnya bisa darimana saja, yang penting bisa membantu Jokowi di aspek-aspek tersebut. Dan sebaliknya Jokowi juga harus merasa nyaman dengan cawapres. Chemistry dan loyalitas menjadi faktor yang paling penting ” ujarnya.
Secara terpisah, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko mengatakan di masa Jokowi pembangunan infrastruktur tak semata sebagai bangunan fisik, tapi berkesinambungan dengan pembangunan SDM. “Hal ini pada akhirnya akan jadi pembangunan peradaban sebuah bangsa,” ujarnya.
Terkait dengan pengembangan SDM, menurut Moeldoko, HKTI berupaya menjaring para inovator sektor pertanian dan pendukung pertanian. Inovasi dan teknologi merupakan salah satu fokus HKTI dalam memberdayakan petani dan mengembangkan pertanian Indonesia.
"Meski menerapkan teknologi dan inovasi terbaru, sektor pertanian tetap harus menjaga kearifan lokal sehingga inovasi teknologi dan budaya dapat saling melengkapi," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Vicky Fadil
Tag Terkait: