Ultimatum Berakhir Malam Ini, Amerika Serikat Akan Lakukan Serangan Besar-besaran ke Iran
Kredit Foto: US Army Photo/Carrie David Campbell
Amerika Serikat siap mengintensifkan serangannya terhadap Iran. Hal ini menyusul belum adanya tanda-tanda jalur diplomasi dari kedua pihak akan menemui titik temu demi mengakhiri perang dari Timur Tengah.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth menyatakan bahwa serangan paling besar sejak awal konflik dengan negara terkait akan berlangsung dengan intensitas yang akan terus meningkat di Selasa.
Baca Juga: Gencatan Senjata Tidaklah Cukup, Ini Sejumlah Tuntutan Iran ke Amerika Serikat
"Serangan terberat sejak awal operasi akan terjadi pada hari Senin. Hari Selasa akan ada serangan yang lebih besar lagi," katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah potensi eskalasi militer besar-besaran oleh Washington ke Teheran. Amerika Serikat diketahui telah menetapkan tenggat waktu penerimaan proposal perdamaian pada Selasa 20.00.
Tuntutan tersebut mencakup penghentian pengembangan senjata nuklir serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Jika tuntutan tidak dipenuhi, mereka menyatakan siap meluncurkan serangan luas, termasuk terhadap infrastruktur sipil dari Iran.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan sebagai bagian dari operasi militer yang lebih besar di Iran. Langkah tersebut menuai kontroversi karena berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap warga sipil, infrastruktur publik dan berpotensi menjadi kejahatan perang.
Namun, Trump menolak kritik tersebut dengan menyatakan bahwa ancaman utama justru berasal dari potensi pengembangan senjata nuklir oleh Iran. Ultimatum ini menandai peningkatan signifikan dalam eskalasi konflik yang telah berlangsung lebih dari lima minggu.
Adapun Iran menyampaikan respons terhadap proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat. Pihaknya menyampaikan penolakan atas hal tersebut, khususnya terkait dengan gancatan senjata di Timur Tengah.
Kepala Misi Diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdousi Pour menyatakan bahwa gencatan senjata tidak cukup untuk mengakhiri konflik. Ia menegaskan bahwa pihaknya hanya akan menerima penghentian perang secara permanen dengan jaminan tidak akan diserang kembali oleh Israel dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Meski Kejahatan Perang, Amerika Serikat Tak Akan Segan Bombardir Infrastruktur Sipil di Iran
Iran juga mengajukan sejumlah syarat utama yang dituangkan dalam sekitar sepuluh klausul, di antaranya adalah penghentian konflik dalam seluruh kawasan, pencabutan sanksi ekonomi, program rekonstruksi pascakonflik hingga protokol keamanan untuk pelayaran di Selat Hormuz.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement