Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Mengawali pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 31,95 poin atau 0,53% dengan ditutup ke level 5.944,60.
Head of Research Reliance Securities, Lanjar Nafi, mengatakan bahwa penekan indeks hingga akhir perdagangan berasal dari Sektor Industri dasar (-2.05%) dan Pertanian (-1.61%).
“Aksi jual investor terhadap saham-saham produsen semen dan CPO menjadi faktor utama. Saham INTP (-4.73%) dan SMGR (-3.21%) menjadi laggard pelemahan IHSG pada sektor Industry dasar,” ungkapnya, di Jakarta, Senin (01/10/2018).
Lebih lanjut Ia menuturkan jika rilis data inflasi year on year Indonesia bulan september yang sebesar 2.88% lebih rendah dari ekspektasi, dan yang merupakan inflasi terendah selama 2 tahun terakhir serta Inflasi bulanan Indonesia tercatat deflasi tertinggi sejak 2 tahun terakhir di level 0.18% tidak mampu menjadi pendorong penguatan IHSG.
“Secara teknikal IHSG membentuk pola bearish homing pigeon yang merupakan pola reversal dengan indikasi pulled back upper bollinger bands dan bearish trend line sehingga memicu pelemahan lebih lanjut menguji MA20 sebagai support terdekat. Indikator Stochastic terlihat tertahan dengan pola pergerakan yang telah mencapai area overbought dan Indikator RSI yang lebih lambat terlihat mendatar pada area middle memberikan signal akselerasi momentum IHSG tidak cukup kuat untuk menguji level psikologis dalam jangka pendek,” tuturnya.
Ia memprediksikan bila IHSG akan bergerak cenderung melemah dengan berada dikisaran 5874-5982. Saham-saham yang masih dapat dicermati diantaranya BBNI, BBRI, EXCL, HRUM, INDY, JPFA, LSIP, WSKT, WIKA, ELSA, TRAM.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Kumairoh
Tag Terkait: