Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Serangan Siber Didukung Negara Terus Alami Peningkatan karena...

Serangan Siber Didukung Negara Terus Alami Peningkatan karena... Kredit Foto: Unsplash
Warta Ekonomi, Moskow -

Eugene Kaspersky, CEO perusahaan keamanan siber Kaspersky menuturkan, serangan dunia maya yang disponsori negara telah meningkat di seluruh dunia. Tetapi, dia menuturkan, negara-negara memilih untuk tetap diam tentang ancaman yang mereka hadapi.

Laporan serangan dunia maya negara telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam satu contoh awal tahun ini di bulan Juni, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan bahwa aktor dunia maya canggih berbasis negara telah menargetkan pemerintah negara lain.

Baca Juga: Awas, 30% Ancaman Siber Akibat Penyalahgunaan Alat Sah

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) secara teratur menuduh China melakukan taktik perang siber negara.

“Saya khawatir ada banyak insiden, insiden dunia maya, yang sedang terjadi dan negara-negara hanya diam. Mereka tidak membicarakan hal ini,” kata Kaspersky, seperti dilansir Al Arabiya.

Kaspersky mencatat bahwa serangan dunia maya, baik kriminal maupun yang disponsori negara, telah tumbuh secara eksponensial dalam kecanggihan dan volume selama dua dekade terakhir.

“Kecanggihan serangan dunia maya terus berkembang sepanjang waktu. Setiap hari, kami mengumpulkan lebih dari 300 ribu aplikasi berbahaya baru, 300 ribu aplikasi baru yang tidak pernah kami lihat sebelumnya, setiap hari,” jelasnya.

"Sementara itu, pemerintah telah turun ke dunia maya untuk melakukan operasi klandestin - seringkali lebih lama dari yang disadari komentator sebelumnya. Serangan yang disponsori negara bukanlah hal baru, karena itu telah terjadi sejak awal 2000-an dan kami tidak menyadarinya. Kami mengira itu hanya malware dan kemudian kampanye spionase ini menjadi semakin rumit," sambungnya.

Dia menuturkan, melacak kampanye ini merupakan sebuah tantangan dan seringkali sulit bagi pakar keamanan untuk menemukan sumber serangan.

Para ahli sering dibiarkan mencari "sidik jari" dunia maya yang dapat membantu mengidentifikasi penyerang, contohnya mungkin waktu serangan, yang dapat membantu menunjukkan di zona waktu mana penyerang beroperasi atau bahasa yang digunakan dalam pengkodean serangan.

“Spionase siber kebanyakan berbicara tiga bahasa. Bahasa Inggris asli, beberapa dari zona Atlantik, bahasa Rusia asli, yang tidak terlalu aktif selama musim liburan di Rusia dan bahasa China yang disederhanakan, yang biasanya tidak aktif selama minggu-minggu liburan di China," jelas Kaspersky.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan