Perusahaan Keluarga Tangguh di Masa Pandemi

Perusahaan Keluarga Tangguh di Masa Pandemi Kredit Foto: President University

President University (PresUniv) kembali menyelenggarakan International Conference on Family Business and Entrepreneurship (ICFBE) 2021. Ini adalah tahun ke-5 penyelenggaraan ICFBE

Pada tahun ini, PresUniv kembali berkolaborasi dengan Universitas Dhyana Pura, Bali, dan Indonesia Strategic Management Society (ISMS).

IFCBE merupakan ajang berbagi pengetahuan dan hasil riset tentang perusahaan keluarga yang melibatkan peserta dan pembicara dari kalangan pemerintahan, akademisi, dan dunia bisnis

Rektor PresUniv Jony Oktavian Haryanto berharap melalui forum ini seluruh pihak dapat saling bertukar informasi, berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta hasil riset tentang bagaimana perusahaanperusahaan keluarga dapat bertahan dan memulihkan dirinya dari ancaman pandemi Covid-19.

Untuk tahun ini, lanjut Jony  ICFBE memilih tema On the Path to Recovery: Leadership, Resilience and Creativity.

“Tema tersebut kami pilih, karena saat ini masih banyak perusahaan, termasuk perusahaan keluarga, yang tengah berjuang untuk memulihkan diri setelah selama hampir dua tahun diterjang pandemi Covid-19. Di sini, kepemimpinan (leadership), daya tahan (cesilience) dan kreativitas (creativity) betul-betul diuji dan memainkan peran yang sangat penting,” ungkap Jony

Dalam paparannya, Jony mengutip riset McKinsey (2014) yang menyebut pentingnya peran perusahaan keluarga dalam perekonomian dunia. Menurut McKinsey, 80% Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara di dunia ternyata berasal dari perusahaan keluarga.

Lalu, dari seluruh perusahaan yang ada di dunia, 60%-nya masih dimiliki oleh keluarga. Mereka ini memainkan peran penting, karena rata-rata perusahaan keluarga mampu membukukan pendapatan US$1 miliar (atau sekitar Rp14,5 triliun jika memakai kurs saat ini).

Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, saat ini bisnis rintisan atau startup tumbuh bak jamur di musim hujan. Maraknya bisnis startup saat ini pun tak lepas dari peran perusahaan keluarga. Sekitar 85% startup ternyata mendapatkan modal pertamanya dari bisnis keluarga. K

Sementara itu Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19, dituntut untuk terus mencari jalan guna memulihkan berbagai sektor, termasuk ekonomi.

” Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat dan inovatif dalam membangun ketangguhan ekonomi serta kreativitas dari seluruh komponen,”tegasnya.

Pandemi Covid-19, Kata Koster menyebabkan kontraksi yang sangat dalam bagi perekonomian Bali.

“Ini karena perekonomian Bali sangat tergantung pada satu sektor, yaitu pariwisata. Padahal, bisnis pariwisata sangat rentan terhadap perubahan faktor eksternal, seperti gangguan keamanan (bom Bali 1 dan 2), bencana alam (letusan Gunung Agung), termasuk pandemi Covid-19. Kejadian ini mengakibatkan perekonomian Bali sangat terpuruk,”pungkasnya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini