Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Penanganan Covid-19 jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Nasional

Penanganan Covid-19 jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Nasional Kredit Foto: Djati Waluyo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 menjadi permasalahan yang cukup pelik bagi perekonomian dunia maupun Indonesia.

Khususnya untuk Indonesia yang mana 54 persen dari perekonomianya berasal dari sektor rumah tangga yang sangat tergantung dari pergerakan manusia merasakan dampak yang cukup dahsyat.Terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2020 yang anjlok hingga minus 5,32 persen.

Baca Juga: Pandemi COVID 19 Sudah Berakhir? Hmm Ternyata...

Meski begitu pada 2021 ekonomi Indonesia sudah mulai berangsur pulih beriringan dengan cukup baiknya penanganan kasus Covid-19 yang mengalami penurunan jumlah masyarakat yang terinveksi.

"Sebetulnya kenapa saya bilang penanganan kita berjalan baik, karena data-data menunjukan bahwa terjadi tren positif dari pertumbuhan ekonomi setelah kita mengalami penurunan terdalam pada triwulan 2 2020 yaitu minus 5,32 persen kita sempat mencapai 7,07 persen pada triwulan 2 2021 yang merupakan terbesar dalam 16 tahun," ujar Pimpinan Redaksi WartaEkonomi, Muhammad Ihsan dalam webinar Economic & Business Outlook 2022: Structural Reforms For Future Economics and Business Resilience, Kamis (20/1/2022).

Ihsan mengatakan adanya varian Omicron memang sedikit menghambat pertumbuhan ekonomi dan membuat masyarakat berhati-hati dalam bertindak. Meski begitu tingkat infeksi Omicro yang tidak seganas Delta tidak membuat masyarakat menghentikan aktivitasnya.

"Mungkin kita tetap harus prokes tetap harus hati2 tapi jangan terlalu takut atau bertindak kurang rasional sehingga menghambat perkembangan perekonomian kita karena 54 persen dari perekonomian kita ada di sektor rumah tangga yang sangat tergantung pada pergerakan manusia," ujarnya.

Mulai membaiknya pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Seperti yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dengan tetap menjaga BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR)yang di 3,50 persen, kemudian bunga deposito tetap di 2,75 persen, kemudian suku bunga landing ratenya 4,25 persen.

"Hal ini menunjukan bahwa bank indonesia sangat konsen untuk menjaga perekonomian kita agar tetap stabil," jelasnya.

 

Perbaikan Perekonomian

Ihsan mengatakan beberapa sektor perekonomian juga sudah mulai menunjukan perbaikan pada 2021, seperti yang terjadi di sektor perbankan mulai berangsur-angsur mengalami perbaikan ditunjukan dari tumbuhnya trem kredit pada 2021 sebesar 5,2 persen Year on Year (YoY) selama 2021.

"Restrukturisasi Covid-19 juga turun dari sebelumnya Rp 830,5 triliun sekarang menjadi Rp 693,6 triliun, demikian juga dengan permodalan juga baik," ujarnya.

Sementaa itu untuk Industri Keuangan Non Bank (IKNB) juga mengalami peningkatan dimana Risk Based Capital (RBC) asuransi jiwa mencapai 539,8 persen pada 2021, dan asuransi umum mencapai 327,3 persen atau jauh diatas ambang batas sebesar 120 persen.

"Menunjukan bahwa kita tetap tumbuh begitu juga resiko kredit di perusahaan pembiayaan terpantau stabil dengan npfnya di level 3,53 persen setelah sebelumnya sempat mencapai angka 5 persen pada 2020," jelasnya.

Sedangkan untuk pasar modal menunjukan sesuatu yang luar biasa dimana 80 persen dari investor berasal dari milenial dan indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah pulih kembali sebesar 6,693.

"Hal ini menunjukan adanya blesing in disgust ketika ada pandemi yang sebenarnya ada 3 hal yang kita hadapi saat ini yakni revolusi digital, milenial, dan pandemi tapi dari sisi pasar modal justru menunjukan blesing in disgust karena mayoritas investor baru yang masuk adalah milenial," ungkapnya.

Dengan data tersebut dan apa yang dilakukan oleh KSSK menurutnya membuat yakin masyarakat bahwa Indonesia saat ini dalam kondisi terkendali.

 

Penulis: Djati Waluyo
Editor: Alfi Dinilhaq

Bagikan Artikel:

Video Pilihan