Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Jelaskan Alasan RI Gabung Board of Peace ke 160 Ulama, Sudah Konsultasi 9 Negara Islam

Prabowo Jelaskan Alasan RI Gabung Board of Peace ke 160 Ulama, Sudah Konsultasi 9 Negara Islam Kredit Foto: Dok. BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto duduk bersama 160 ulama dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Kepresidenan, Kamis (5/3/2026).

Ketua Dewan Pembina Gerindra itu bukan untuk berpidato, tapi untuk membuka kalkulasi menjelaskan secara langsung mengapa Indonesia memilih bergabung dalam Board of Peace (BoP), forum perdamaian Palestina yang menjadi salah satu keputusan paling diperdebatkan publik dalam beberapa pekan terakhir.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut pertemuan itu berlangsung intensif dan penuh keterbukaan cara pandang, sebuah forum yang oleh pemerintah disebut sebagai ruang dialog dua arah, bukan sekadar sosialisasi kebijakan.

Keputusan bergabung dengan BoP, menurut Teddy, tidak diambil dalam satu malam. Sebelum melangkah, Presiden diklaim telah melakukan komunikasi intensif dengan pemimpin sembilan negara mayoritas Islam di antaranya Turki, Arab Saudi, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Pakistan, Yordania, Kuwait, dan Bahrain.

Rangkaian konsultasi itu menjadi fondasi argumentasi yang kemudian dibawa Prabowo ke hadapan para ulama.

Prabowo tidak membatasi diskusi hanya pada isu BoP dan Palestina. Dalam forum yang sama, ia juga membahas dinamika geopolitik yang lebih luas termasuk konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran yang berdampak langsung pada stabilitas kawasan Timur Tengah sekaligus mengguncang rantai pasokan energi dan ekonomi global.

"Presiden Prabowo menegaskan bahwa keputusan tersebut adalah sebagai langkah konkret yang ditempuh sebagai upaya untuk mengurangi jumlah konflik dan korban di Palestina," ujar Teddy melalui unggahan Instagram @sekretariat.kabinet, Jumat (6/3/2026).

Framing itu penting dicatat karena pemerintah memilih kata konkret, bukan simbolik atau diplomatik, pilihan kata yang sekaligus menjadi komitmen yang akan ditagih publik.

Yang membedakan pertemuan ini dari agenda seremonial biasa adalah posisi para ulama di dalamnya. Teddy menegaskan pemerintah membuka ruang bagi para ulama untuk menyampaikan pandangan dan masukan bukan sekadar mendengarkan pemaparan pemerintah.

Bagi kalangan yang mempertanyakan konsistensi kebijakan luar negeri Prabowo dengan posisi historis Indonesia terhadap Palestina, pertemuan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak ingin bergerak tanpa legitimasi sosial yang cukup.

Baca Juga: Presiden Prabowo Dorong Peran Indonesia sebagai Mediator Perdamaian Timur Tengah

Forum dengan para ulama sudah digelar, konsultasi dengan sembilan negara mayoritas Islam sudah dilakukan, dan argumen di balik keputusan BoP sudah dibuka ke publik. Satu hal yang belum ada adalah hasilnya.

Apakah keterlibatan Indonesia di Board of Peace benar-benar mampu mengubah kondisi di lapangan atau hanya memperkuat posisi tawar di meja perundingan global itulah pertanyaan yang kini menggantung dan hanya bisa dijawab oleh waktu.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat