Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bappenas dan Airbus Bahas Kolaborasi Dirgantara! Indonesia Mau Jadi Pemain, Bukan Hanya Pasar

Bappenas dan Airbus Bahas Kolaborasi Dirgantara! Indonesia Mau Jadi Pemain, Bukan Hanya Pasar Kredit Foto: Bappenas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia tidak ingin sekadar menjadi pasar bagi industri penerbangan global. Pesan itu disampaikan langsung oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy saat menerima kunjungan Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley di Jakarta, Jumat (6/2/2026) sebuah pertemuan yang disebut sebagai langkah awal kolaborasi strategis yang lebih dalam antara Indonesia dan salah satu produsen pesawat terbesar di dunia.

"Penguatan ekosistem dirgantara nasional mencakup pengembangan sumber daya manusia, sistem perawatan dan pemeliharaan (MRO), serta peningkatan kapasitas industri dalam negeri agar Indonesia tak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat pertumbuhan industri dirgantara kawasan," ucap Rachmat dikutip dari ANTARA.

Rachmat membingkai urgensi kerja sama ini dari realitas geografis Indonesia yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara kepulauan, konektivitas udara bukan kemewahan ia adalah prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan mobilitas masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

"Inovasi teknologi dan efisiensi operasional pesawat jadi faktor penting dalam menjawab kebutuhan itu," katanya.

Airbus datang bukan dengan tangan kosong. Perusahaan asal Eropa itu menyampaikan kesiapan mempercepat proses pengiriman pesawat dalam sekitar 24 bulan sejak penandatanganan kontrak tenggat yang relatif kompetitif untuk industri dirgantara.

Selain itu, Airbus menawarkan opsi pesawat berbadan lebar untuk penerbangan ultra-jarak jauh yang mampu menghubungkan Indonesia secara langsung ke destinasi global seperti New York dan London, dengan kapasitas hingga 480 kursi tergantung konfigurasi.

Tawaran yang mungkin paling strategis datang dalam bentuk peluang menjadikan Indonesia sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) untuk kawasan Asia-Pasifik tidak hanya untuk kebutuhan komersial, tapi juga pertahanan.

Jika terealisasi, ini bukan sekadar proyek pengadaan pesawat biasa, melainkan transformasi posisi Indonesia dalam rantai nilai industri dirgantara regional.

Skala investasi Airbus di kawasan ini memberi gambaran betapa seriusnya peluang yang sedang dibicarakan. Secara global, Airbus mengalokasikan sekitar 6 miliar dolar AS per tahun untuk desain dan ekspansi manufaktur. 

Baca Juga: Bappenas Dorong Pembenahan Ekosistem Jaminan Kesehatan Terintegrasi

Khusus di Asia, perusahaan ini menginvestasikan sekitar 4 miliar dolar AS per tahun untuk pengembangan riset, taman industri, dan fasilitas produksi didukung sekitar 10 ribu karyawan dari 70 kewarganegaraan.

Rachmat menegaskan pemerintah tidak akan puas dengan kerja sama yang hanya berhenti di transaksi jual-beli pesawat.

Pengembangan sumber daya manusia, penguatan kapasitas industri lokal, dan pembangunan ekosistem dirgantara nasional yang kompetitif secara global adalah syarat yang harus menyertai setiap kesepakatan yang nanti ditandatangani, sebuah posisi tawar yang jelas dari negara yang sedang membangun visi industrialisasinya sendiri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat