Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Putin Siagakan Senjata Nuklir, Analisis Bekas Petinggi Amerika Bikin Ngeri

Putin Siagakan Senjata Nuklir, Analisis Bekas Petinggi Amerika Bikin Ngeri Kredit Foto: New York Times/Sergei Savostyanov
Warta Ekonomi, Moskow -

Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan komando militernya menyiagakan pasukan nuklir. Putin berpendapat negara-negara Barat telah mengambil tindakan tak bersahabat dengan beragam sanksi yang dijatuhkan.

"Seperti yang anda lihat, negara-negara Barat tidak hanya mengambil tindakan tidak bersahabat pada negara kita dalam dimensi ekonomi, maksud saya sanksi-sanksi ilegal yang sudah sangat dikenal semua orang, tapi pejabat tinggi yang memimpin negara-negara NATO juga membiarkan diri mereka menyampaikan pernyataan agresif mengenai negara kita," kata Putin dalam pidato yang disiarkan televisi, Ahad (27/2/2022).

Baca Juga: Beber Informasi Mahal, Bekas Wamenlu: Putin Targetkan 2 Maret, Rusia Menang Penuh

Rencana Putin untuk menyiagakan nuklir telah menuai kecaman dari pemimpin dunia. Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menilai pernyataan Vladimir Putin dengan mempersiapkan sistem pertahanan nuklir adalah retorika yang berbahaya.

"Ini merupakan retorika yang berbahaya. Pernyataan itu sangat tidak bertanggung jawab," ujar Stoltenberg seperti dilansir the Hill, Minggu (27/2/2022).

Menurutnya, jika retorika itu digabungkan dengan apa yang mereka lakukan didarat, maka ini akan membuat situasi semakin serius.

"Inilah mengapa kita mendukung Ukraina dan memperkuat kehadiran pasukan di sisi timur Eropa."

Penggunaan nuklir hanya akan membawa bencana tidak hanya buat Ukraina dan Rusia, tapi dunia secara keseluruhan. Negara-negara Barat yang selama ini memiliki nuklir sewaktu-waktu bisa menggunakan jika sudah terancam diserang.

Robert Hunter, mantan duta besar AS untuk NATO mengatakan, pernyataan Putin agar pasukan nuklir Rusia bersiap merupakan peringatan kepada AS dan sekutunya agar tidak ikut campur.

"Ini merupakan taktik psikologis untuk meningkatkan daya tawarnya di saat ia memutuskan sejauhmana Rusia akan bertempur di Ukraina," ujar Hunter.

"Ini adalah perang psikologis, saya tidak percaya ini akan menjadi ancaman karena Rusia juga akan banyak kehilangan jika menemput jalan tersebut, bahkan mungkin lebih besar."

Rusia merupakan salah satu negara nuklir di dunia. Begitu pun dengan Amerika Serikat yang saat ini menjadi poros utama NATO dan melawan agresi Rusia ke Ukraina.  Hingga kini pertempuran antara tentara Rusia dan Ukraina masih berlangsung.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan