Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Indef Sebut Formula E Berikan Dampak Ekonomi hingga Rp 2,6 Triliun

Indef Sebut Formula E Berikan Dampak Ekonomi hingga Rp 2,6 Triliun Kredit Foto: Djati Waluyo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menghitung dampak daripada penyelenggaraan gelaran Grand Prix Formula E di Jakarta memberikan dampak ekonomi hingga Rp 2,68 triliun.

Peneliti Indef Rizal Taufikurahman mengatakan gelaran balap mobil listrik yang digelar di ancol memberikan dampak positif bagi perekonomian Jakarta baik secara langsung maupun tidak langsung.

"Untuk ekonomi Jakarta akan menambah potensinya sebesar Rp 2,63 triliun terhadap kegiatan ekonomi Jakarta baik itu pelakunya UKM (selama) setahun, jangka pendek," ujar Rizal dalam diskusi publik, Kamis (23/6/2022).

Baca Juga: Ananda Mikola: Formula E Berpengaruh Positif untuk Indonesia

Rizal mengatakan potensi tersebut merupakan hasil kumulasi dari dampak terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta sebesar Rp 2,041 triliun dan dampak langsung sebesar Rp 597 miliar.

Ia menjelaskan, ampak ekonomi langsung tidak hanya dilihat dari satu hari penyelenggaraan, tetapi dari awal persiapan ajang.

"Dampak ekonomi langsung. Pertama, dari alokasi capex (belanja modal). Kemudian alokasi opex (belanja operasional), komitmen fee event Jakarta E-Prix, pembelian tiket, transaksi pengunjung UMKM, dan pengeluaran pengunjung," ujarnya.

Rizal merinci dampak langsung gelaran tersebut terdiri dari alokasi Capital Expenditure (Capex) gelaran Formula E mencapai Rp 213 miliar dan alokasi Operating Expenditure (Opex) sebesar Rp 112 miliar.

"Fee event sebesar Rp 219 miliar, pembelian tiket dan pengeluaran pengunjung sebesar Rp 52,4 miliar. Lalu, transaksi pengunjung UMKM sebesar Rp 4,54 miliar," ungkapnya.

Penyelenggaraan Jakarta E-Prix dilihat juga berdampak pada peningkatan kerja ekonomi sektoral Jakarta dengan peningkatan paling tinggi pada sektor rekreasi dan jasa lainnya sebesar 0,4 persen.

Kemudian sektor komunikasi 0,313 persen, jasa bisnis 0,303 persen, komputer dan elektronik 0,214 persen, dan transportasi udara dan darat 0,208 persen.

Penulis: Djati Waluyo
Editor: Rosmayanti

Bagikan Artikel:

Video Pilihan