Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Marak Kekerasan Seksual di Pesantren, MUI: Jangan Khawatir Kirim Anak

Marak Kekerasan Seksual di Pesantren, MUI: Jangan Khawatir Kirim Anak Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren (ponpes) sedang ramai diperbincangkan sekaligus menjadi keprihatinan. Meskipun demikian Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau orang tua tidak perlu khawatir mengirim anaknya ke pesantren untuk menempuh pendidikan.

"Saya mengimbau kepada segenap orang tua untuk tidak ragu menempatkan anaknya di pesantren sebagai alternatif terbaik tempat pendidikan dan pengasuhan putra-putrinya," kata Ketua Bidang Fatwa MUI, Asrorun Ni’am di Jakarta, kemarin.

Dia menilai pesantren tetap menjadi alternatif tempat pendidikan terbaik untuk anak. Sebab pengasuhan di pesantren berbasis keteladanan, dengan semangat kebersamaan, kesederhanaan, dan kedisiplinan dengan pembiasaan akhlak baik.

Pesantrenkata dia, juga tetap merupakan pilihan terbaik untuk pendidikan karakter. “Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan formal, informal, dan nonformal dengan pendekatan keteladanan serta pengasuhan yang terintegrasi,"Ujarnya.

Namun, dia menyarankan kepada setiap orang tua, agar lebih selektif dalam memilih pondok pesantren sebelum menempatkan putra putrinya di sana. Minimal dengan mengetahui kurikulum dan metode yang dipakai untuk pengajaran.

"Sebelum menempatkan anak, orang tua harus memahami dan mengetahui kondisi faktual pesantren, mulai dari siapa saja pengasuhnya, mata pelajaran yang diajarkan, serta aktivitas kesehariannya," kata Niam.

Selain itu, dia juga meminta para pemilik pesantren untuk memperkuat tata kelola dan optimalisasi pelayanan pesantren. Hal ini menurutnya, dapat membebaskan lingkungan pondok pesantren dari kekerasan seksual.

"Pengasuh pesantren juga perlu menguatkan tata kelola kepesantrenan untuk mengoptimalkan khidmat dan layanan pendidikan dan pengasuhan," jelasnya.

Baca Juga: Gawat! Kesimpulan Komnas HAM Soal Penyiksaan Joshua Bisa Berbahaya, Refly Harun: Jangan Lupa Kasus KM 50

Penulis: Boyke P. Siregar
Editor: Boyke P. Siregar

Advertisement

Bagikan Artikel: