Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Joe Biden: Rusia dan China Bertanggung Jawab Mengontrol Senjata Nuklir

Joe Biden: Rusia dan China Bertanggung Jawab Mengontrol Senjata Nuklir Kredit Foto: Reuters/Leah Millis
Warta Ekonomi, Washington -

Pengendalian senjata nuklir oleh Rusia dan China tetap diserukan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Alasannya, Rusia memiliki tanggung jawab tersebut setelah melakukan serangan terhadap Ukraina.

Biden mengungkapkan, pemerintahannya siap terlibat dalam negosiasi untuk menyusun perjanjian pengganti New START (Treaty on Measures for the Further Reduction and Limitation of Strategic Offensive Arms). Perjanjian yang membatasi kekuatan nuklir antarbenua di AS dan Rusia itu akan berakhir pada 2026 mendatang.

Baca Juga: Mantan Presiden Rusia ke Joe Biden: Semua Ini Jauh Lebih Buruk dari Perang Dingin!

“Rusia harus menunjukkan bahwa mereka siap melanjutkan pekerjaan pengendalian senjata nuklir. Tetapi negosiasi membutuhkan mitra yang bersedia beroperasi dengan iktikad baik. Dan agresi Rusia yang brutal dan tidak beralasan di Ukraina telah menghancurkan perdamaian di Eropa serta merupakan serangan terhadap prinsip-prinsip dasar tatanan internasional,” kata Biden, Senin (1/8/2022).

Biden berpendapat, tugas pengendalian senjata nuklir juga harus dipikul China. Menurutnya, Beijing perlu terlibat dalam pembicaraan yang akan mengurangi risiko miskalkulasi dan mengatasi dinamika militer yang tak stabil.

“Tidak ada manfaat bagi negara kita, atau bagi dunia, untuk menolak keterlibatan substantif dalam pengendalian senjata dan non-proliferasi nuklir,” ucap Biden.

Dia mengatakan, AS dan Rusia memiliki tanggung jawab untuk memastikan kelangsungan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Perjanjian itu berusaha mencegah penyebaran teknologi senjata nuklir di seluruh dunia.

“Kesehatan NPT selalu bertumpu pada batasan senjata timbal balik yang bermakna antara AS dan Federasi Rusia. Bahkan pada puncak Perang Dingin, AS dan Uni Soviet dapat bekerja sama untuk menegakkan tanggung jawab kita bersama guna memastikan stabilitas strategis,” kata Biden.

“Dunia dapat yakin bahwa pemerintahan saya akan terus mendukung NPT dan berupaya memperkuat arsitektur nonproliferasi yang melindungi orang di mana pun,” tambah Biden.

Awal 2021 lalu, Rusia dan AS sepakat memperpanjang masa keaktifan New START. New START adalah perjanjian kontrol senjata yang dijalin Moskow dan Washington sejak 2010 dan seharusnya berakhir pada 5 Februari tahun lalu.

Perjanjian itu melarang kedua negara mengerahkan lebih dari 1.550 hulu ledak nuklir, membatasi rudal, dan pembom berbasis darat serta kapal selam yang mengirimnya.

Sebelumnya AS dan Rusia juga terikat dalam perjanjian Intermediate-range Nuclear Forces (INF). Perjanjian itu bubar setelah kedua negara saling tuding melanggar poin-poin kesepakatan. INF ditandatangani pada 1987. Ia melarang Washington dan Moskow memproduksi dan memiliki rudal nuklir dengan daya jangkau 500-5.500 kilometer.

Baca Juga: Beredar Kabar Xi Jinping Dikudeta Militer China Hingga Jadi Tahanan Rumah, Rumor Katakan Orang Dekatnya Ada di Indonesia!

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Advertisement

Bagikan Artikel: