Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute Catat Daftar Fintech Paling Populer di Indonesia

Peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute Catat Daftar Fintech Paling Populer di Indonesia Kredit Foto: TechCrunch
Warta Ekonomi, Jakarta -

Financial technology (fintech) atau teknologi keuangan kini telah menarik banyak perhatian dari masyarakat di Indonesia, terutama pada populasi masyarakat unbanked atau masyarakat yang tidak memiliki rekening dan belum terjangkau oleh layanan dari lembaga keuangan tradisional.

Dalam adopsi fintech di Indonesia, sebuah data dari Indonesia Fintech Report 2020 mencatat bahwa adopsi fintech didominasi oleh fintech lending sebanyak 50%, kemudian diikuti oleh payments 23%, blockchain/kripto 8%, personal finance 7%, insurtech 5%, crowdfunding 3%, comparison 2%, dan POS services 2%.

Sebuah lembaga penelitian dan badan hukum di bawah lingkup Kementerian Pendidikan di Singapura, ISEAS-Yusof Ishak Institute telah mencoba melakukan sebuah survei terkait dengan adopsi dan dampak sosial dintech terutama bagi masyarakat di wilayah Jabodetabek. Dalam hal ini, survei juga dilakukan untuk mengetahui bagaimana perilaku pengguna dalam adopsi dan pengguna fintech.

Baca Juga: Meski Ada Kekhawatiran Kebocoran Data dan Penipuan, Penggunaan Fintech Akan Terus Tumbuh

Surveiy dilakukan kepada sejumlah 1.212 responden di wilayah Jabodetabek yang merupakan pengguna internet yang berada dalam jangkauan usia 18-70 tahun. Denan rasio perempuan 54% dan laki-laki 46% dari bidang pekerjaan pekerja swasta 31%, ibu rumah tangga 17%, pelajar 5%, pengusaha 13%, tidak bekerja 10%, PNS 4%, dan 10% lainnya.

Untuk tipe fintech yang ditanyakan di dalam survei dibagi menjadi tujuh golongan, yaitu e-wallet (GoPay, Ovo, ShopeePay, DANA, dll), insurance (Axa, Sun Life, Zurich, dll), credit/multi finance (FIF Group, Adira, BCA Finance, dll), lending dan BNPL (Akulaku, Kredivo, Julo, OVO Paylater, Gopay Paylater, Shopee Paylater, dll), business loan (KoinWorks, Amartha, Investree, dll), investment (Stockbit, MNC Sekuritas, Bibit, dll), dan donation (Kitabisa, Rumah zakat/Sharing Happiness, e-Wakaf, dll).

Adopsi fintech di wilayah Jabodetabek didominasi oleh aktivitas penggunaan payment/transfer melalui e-wallet/digital e-wallet sebesar 90,3%, diikuti oleh penggunaan payment/transfer melalui m-banking/internet banking sebesar 77%, kemudian donasi melalui aplikasi sosial digital 32,1%, online lending 30,7%, investasi online 21,4%, payment/transfer melalui kredit/aplikasi multi finance 9%, payment/transfer melalui aplikasi asuransi online 5,5%, dan pinjaman bisnis online 4,2%.

Dalam penggunaan internet banking atau m-banking, penggunaan terbesar adalah melalui aplikasi BCA sebayak 66%, Bank Mandiri 27%, BNI 21,3%, BRI 20,5%, CIMB Niaga 8,5%, BTPN 6,5%, Bank Permata 5,3%, dan bank lainnya pada angka 13,8%.

"Di antara semua penggunaan fintech, penggunaan e-wallet dan m-banking adalah yang terbesar. Dalam hal ini, orang-orang lebih percaya dalam menggunakan m-banking. Bahkan m-banking adalah pilihan utama bagi masyarakat sebelum mereka beralih ke e-wallet atau e-commerce," tutur Astrid Meilasari-Sugiana perwakilan dari ISEAS-Yusof Ishak Institute dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh CSIS bersama TFGI pada Selasa (4/10/2022).

Baca Juga: Cak Imin Ancam Bentuk 'Komposisi' Baru jika Prabowo Duet dengan Ganjar, Gerindra Bakal Berantakan?

Penulis: Tri Nurdianti
Editor: Rosmayanti

Advertisement

Bagikan Artikel: