Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

5 Tahun Melantai di Bursa, Indointernet (EDGE) Umumkan Rencana Go Private

5 Tahun Melantai di Bursa, Indointernet (EDGE) Umumkan Rencana Go Private Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Indointernet Tbk (EDGE) atau yang lebih dikenal dengan Indonet mengumumkan rencana untuk mengubah status dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup (go private) secara sukarela. Langkah tersebut juga diikuti dengan rencana pembatalan pencatatan saham Perseroan di Bursa Efek Indonesia (voluntary delisting).

Bukan sekadar wacana, keputusan tersebut telah dikonfirmasi langsung oleh manajemen perusahaan. "Perseroan memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi tertentu yang dapat berdampak terhadap pencatatan saham Perseroan di Bursa, yaitu rencana  perubahan status Perseroan  untuk menjadi perusahaan tertutup (go private)," kata Sekretaris Perusahaan, Elena Situmorang.

Menyusul pengumuman tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah penghentian sementara perdagangan saham EDGE di seluruh pasar.

"Bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek Perseroan (EDGE) di seluruh pasar efektif mulai sesi pra-pembukaan perdagangan efek tanggal 10 Februari 2026," kata Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI, Adi Pratomo Aryanto.

BEI juga mengimbau seluruh pihak yang berkepentingan untuk mencermati setiap keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan.

Baca Juga: Soal 70 Emiten Berpotensi Delisting, BEI Sebut Perusahaan Sudah Tak Layak Jadi Emiten

Perjalanan Indointernet di Lantai Bursa

PT Indointernet dikenal sebagai pelopor Internet Service Provider (ISP) komersial pertama di Indonesia, yang didirikan oleh konglomerat Otto Toto Sugiri pada tahun 1994. Seiring waktu, Indonet tidak lagi sekadar menyediakan akses internet, tetapi berkembang menjadi penyedia solusi digital terintegrasi bagi segmen korporasi.

Transformasi ini menempatkan Indonet sebagai infrastruktur penting bagi berbagai platform besar, terlebih posisinya sebagai mitra strategis dari sejumlah raksasa global seperti Amazon Web Services (AWS) Direct Connect, Google Cloud Interconnect (GCI), dan Alibaba Cloud dalam menyediakan layanan cloud exchange dan konektivitas aman.

Indointernet resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Februari 2021 dengan melepas 80,81 juta saham ke publik pada harga Rp7.375 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, Perseroan berhasil meraih dana segar sekitar Rp595,97 miliar. Pada 11 Juni 2021, Digital Edge (Hong Kong) Ltd masuk sebagai pemegang saham mayoritas.

Melalui anak usahanya, PT Ekagrata Data Gemilang atau EDGE DC, Perseroan mengoperasikan pusat data berteknologi tinggi di Jakarta yang dirancang untuk kebutuhan latensi rendah, khususnya bagi sektor finansial dan teknologi.

Dilengkapi teknologi canggih untuk memenuhi kebutuhan hyperscale dan Artificial Intelligence (AI) yang meningkat, layanan ini dirancang untuk menetapkan standar baru dalam konektivitas dan keberlanjutan di pusat data, dengan menghadirkan kapasitas infrastruktur data kritikal yang sangat dibutuhkan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. 

Pada 2025, Indonet juga memperkenalkan identitas baru melalui peluncuran logo anyar, sebagai bagian dari integrasi dengan ekosistem Digital Edge DC di kawasan Asia Pasifik.

Baca Juga: Saham HOTL Terancam Delisting, Manajemen Bilang Begini ke BEI

Sebelum kabar go private mencuat, Indonet masih aktif memperkuat lini bisnisnya. Pada 22 Januari 2026, Perseroan melaporkan transaksi afiliasi berupa peningkatan modal pada dua anak usaha, yakni PT Digital Gayana Ekagrata (DGE1) dan PT Digital Gayana Ekaprana (DGE2).

Total suntikan modal tersebut mencapai Rp283 miliar yang dialokasikan untuk belanja modal dalam rangka ekspansi bisnis kedua entitas tersebut.

Pergerakan Saham EDGE Sejak IPO

Sejak penawaran umum perdana, saham EDGE menunjukkan pergerakan yang fluktuatif namun signifikan. Pada hari pertama perdagangan, saham ini langsung melonjak hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA) dengan lonjakan 20% atau naik 1.475 poin dari harga penawaran Rp7.375 menjadi Rp8.850 per saham.

Berdasarkan data Stockbit, saham EDGE telah naik 2.670 poin atau 125,94% sejak IPO lima tahun lalu. Harga tertingginya berada di Rp11.550 per saham yang tercatat pada November 2023. Perseroan sempat melakukan aksi korporasi berupa stock split dengan rasio 1:5 pada akhir 2023, sehingga harga saham menjadi lebih terjangkau.

Sebelum disuspensi menyusul rencana go private, saham EDGE pada Senin (9/2) mengalami tekanan. Saham ini ditutup melemah 5,62% ke posisi Rp4.790. Dalam sepekan, penurunannya mencapai 5,62%, meski secara year-to-date masih menguat 6,21%.

Berdasarkan data BEI per akhir Januari 2026, struktur pengendali saham EDGE didominasi investor asing. Digital EDGE (Hongkong) Ltd menggenggam 59,1% saham, sementara Digital Edge (HK) SPVI Ltd memiliki 33%, dan kepemilikan publik 7,9%.

Adapun penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham EDGE adalah DEA Top Co Limited, entitas terasosiasi Digital Edge, perusahaan pusat data Asia-Pasifik yang berbasis di Singapura.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Bagikan Artikel: