Kredit Foto: Kementerian ESDM
Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan di Senin (29/12). Hal tersebut didorong meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul memanasnya konflik dari Rusia - Ukraina.
Dilansir dari Reuters, Selasa (30/12), Minyak Brent naik 2,1% ke US$61,94. Sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 2,4% ke US$58,08.
Baca Juga: Beperan Penting Topang Industri Nasional, Kemenperin Perkuat Industri Penunjang Migas
Rusia baru-baru ini melancarkan tuduhan serius ke Ukraina. Mereka menyebut bahwa negara itu telah meluncurkan serangan drone ke kediaman resmi dari Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Moskow merespons hal tersebut dengan menyatakan akan meninjau kembali posisinya dalam perundingan damai menyusul insiden tersebut.
Adapun Ukraina membantah tuduhan itu. Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan bahwa musuhnya tengah mencari pembenaran palsu untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap negara tetangganya.
Analis Ritterbusch and Associates menilai ketegangan tersebut berpotensi menopang harga minyak dalam jangka pendek.
“Kecuali Rusia secara mengejutkan menarik kembali tuntutan sebelumnya terkait wilayah dan jaminan keamanan, kami memperkirakan harga minyak akan bergerak naik secara bertahap hingga pekan ini dan pekan depan,” kata Ritterbusch.
Adapun perhatian pasar minyak juga tertuju pada Timur Tengah. Koalisi Pimpinan Arab Saudi di Yaman menyatakan bahwa setiap langkah militer oleh kelompok separatis selatan yang merusak upaya de-eskalasi akan ditindak untuk melindungi warga sipil.
Perkembangan geopolitik dalam berbagai kawasan tersebut menambah faktor risiko pasokan global, sehingga mendorong penguatan harga minyak.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Advertisement