Kredit Foto: Uswah Hasanah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat dua digit sebesar 22,1% secara year to date (YtD) hingga penutupan perdagangan 29 Desember 2025, berakhir di level 8.604,26. Kinerja tersebut terjadi di tengah tekanan global yang dipicu ketidakpastian kebijakan moneter, tensi geopolitik, dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara utama.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK, Eddy Manindo Harahap, mengatakan penguatan IHSG mencerminkan ketahanan pasar keuangan domestik dalam menghadapi dinamika global sepanjang 2025.
“Di tengah berbagai tantangan global, pasar modal Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang baik, didukung stabilitas makroekonomi dan kebijakan domestik yang responsif,” ujar Eddy dalam Konferensi Pers Penutupan Perdagangan BEI 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Baca Juga: Jumlah Investor Pasar Modal Naik 5,34 Juta Sepanjang 2025
Seiring penguatan IHSG, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) turut meningkat signifikan. OJK mencatat kapitalisasi pasar mencapai Rp15.817 triliun atau tumbuh 28,61% secara YtD. Kenaikan tersebut menunjukkan peningkatan valuasi aset saham di tengah volatilitas pasar global.
Kinerja positif tidak hanya terjadi di pasar saham. OJK juga mencatat penguatan di pasar surat utang. Indeks pasar obligasi Indonesia naik 12,1% dan ditutup di level 440,19 hingga akhir 2025. Penguatan tersebut mencerminkan minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.
Dari sisi likuiditas, aktivitas transaksi pasar modal sepanjang 2025 juga mengalami peningkatan. Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) tercatat mencapai Rp18,06 triliun, meningkat 40,54% dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp12,85 triliun. Lonjakan ini menunjukkan partisipasi investor yang semakin aktif di pasar sekunder.
Baca Juga: Pasar Modal Cetak Rekor, Penghimpunan Dana Capai Rp268 Triliun
Eddy menjelaskan, ketahanan pasar modal nasional ditopang oleh kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Faktor pendukung tersebut antara lain inflasi yang relatif terkendali, stabilitas sektor keuangan, serta konsistensi kebijakan pemerintah dan regulator dalam menjaga stabilitas pasar.
Menurut Eddy, kondisi tersebut memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha, sekaligus menjaga daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor domestik dan asing.
OJK menilai capaian pasar modal sepanjang 2025 menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan yang diperkirakan lebih dinamis pada 2026. Untuk menjaga momentum tersebut, OJK akan terus memperkuat regulasi dan meningkatkan kualitas pengawasan pasar.
Ke depan, OJK juga akan memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan pasar modal Indonesia tetap berjalan secara teratur, wajar, efisien, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement