Ekonomi Indonesia 2026: Peluang di Tengah Ancaman
Oleh: Jahja B Soenarjo, Ketua Umum CEO Business Forum Indonesia
Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Tahun 2025 adalah tahun yang berat, demikian kata sebagian besar pengusaha dan juga masyarakat umumnya. Dagang sepi, harga-harga naik, bahan pokok susah, bencana di mana-mana, pabrik-pabrik relokasi atau gulung tikar sekalian, PHK merebak.
Kendati demikian, Pemerintah tetap berupaya menjaga kondisi perekonomian dengan menampilkan begawan baru, Purbaya Yudhi Sadhewo, yang gebrakan-gebrakannya hingga saat ini cukup berani.
Tak heran muncul istilah Purbayanomics, dengan asumsi dan pemikirannya yang akan diuji oleh waktu, apakah konsisten dan efektif, mengingat kondisi keuangan negara ini, bila ingin jujur. sedang tidak sehat.
Utang luar negeri yang jatuh tempo besar, BUMN dikabarkan merugi (tapi dana dihimpun sudah ribuan triliun), penerimaan pajak jauh dari target, ditambah pengeluaran tambahan untuk rehabilitasi pasca bencana.
Situasi di atas masih ditambah dengan ancaman resesi global dan melorotnya pertumbuhan ekonomi dunia, serta khususnya sejumlah negara penggerak ekonomi seperti AS, China, dan negara-negara Eropa.
Baca Juga: Apindo: UMP Jakarta Naik, Sektor Padat Karya Bakal Terdampak
Pertumbuhan Indonesia sendiri finish di angka 4,97% untuk tahun 2025 dan ingin mengejar 5,2 hingga 5,4% dengan memanfaatkan momentum musiman di awal tahun.
Namun, daya beli masyarakat menengah yang diandalkan sebagai penggerak konsumsi selama ini mulai melorot. Ini berhubungan dengan sektor distribusi dan perdagangan ritel sebagai hilir daripada sektor industri, yang otomatis mulai melakukan efisiensi untuk bertahan.
Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja masih menjadi PR besar untuk menghadapi bonus demografi. Deregulasi harus digulirkan untuk menarik investasi asing, yang mungkin masih ragu-ragu merealisasikan oleh karena banyak faktor di dalam negeri ini.
Upaya penyelenggaraan program magang adalah solusi jangka pendek yang bagus, namun kelanjutannya kelak perlu dikaji kembali efektivitas pelaksanaannya, dengan harapan program ini banyak menyentuh pula lapisan UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan.
Jadi, bagaimana dengan kondisi ekonomi tahun 2026?
Sejatinya, semangat dan optimisme tetap perlu dijaga. Melempar kritik dan saran konstruktif kepada Pemerintah tetap harus dilakukan dan berharap mendapat respons positif untuk duduk bersama; tidak boleh ada jurang (gap) antara Pemerintah dan elit politik dengan masyarakat.
Hendaknya roda perekonomian digulirkan menyentuh semua lapisan dan sesuai dengan kebutuhan tiap daerah, tidak hanya bertolak dari kebijakan-kebijakan yang kadang dinilai kurang efektif di mata masyarakat.
Baca Juga: Dana Rp1 Triliun dari Purbaya Telah Ludes, Bank Jakarta Minta Tambahan Rp20 Triliun
Misalnya, pelaksanaan program MBG yang sejujurnya dinikmati sekelompok tertentu, impor ilegal yang masih sulit diberantas, demo yang sering mengganggu kalangan industri, pelaksanaan Coretax yang masih banyak masalah, transparansi penggunaan anggaran, dan sederet masalah perlu mendapat perhatian serius Pemerintah.
Kami sendiri, melalui CEO Business Forum Indonesia maupun bersama para rekan yang tergabung di sejumlah organisasi non-politis seperti APINDO, Perhimpunan INTI, dan AFI, siap memberi masukan dan menjadi mitra kolaborator mendukung Pemerintah untuk program-program yang berorientasi kepada penguatan ekonomi serta kesejahteraan yang lebih baik dan merata bagi seluruh masyarakat.
Peluang di tahun Kuda tetap ada, tinggal kita mampu berlari kencang ibarat sembrani atau sebaliknya kuda poni? Karena kuda harus lincah berlari melompati berbagai rintangan dan medan yang naik turun. Siapkah kita?
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Advertisement