Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pasar Sambut Potensi Minyak Venezuela, Saham Energi Naik

Pasar Sambut Potensi Minyak Venezuela, Saham Energi Naik Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Saham perusahaan energi Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Senin (5/1/2026) waktu setempat, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi terbukanya kembali akses industri energi AS ke cadangan minyak Venezuela. Sentimen tersebut menguat setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait langkah Washington terhadap Venezuela, yang dinilai dapat mengubah lanskap pasokan minyak global.

Penguatan saham terjadi di tengah spekulasi pasar bahwa pemerintahan Trump tengah menyiapkan strategi untuk memulihkan produksi minyak Venezuela, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas AS. Isu tersebut mendorong optimisme investor terhadap peluang keterlibatan perusahaan minyak AS dalam sektor energi Venezuela yang selama ini tertekan sanksi.

Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun produksi minyak negara tersebut terus mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir. Penurunan produksi dipicu oleh salah kelola industri migas, minimnya investasi asing pascanasionalisasi, serta sanksi internasional yang membatasi ekspor dan akses pembiayaan.

Baca Juga: Konflik AS-Venezuela Dorong Saham Migas dan Emas

Sumber yang mengetahui rencana pemerintah AS menyebutkan, pemerintahan Trump dijadwalkan menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak AS pada akhir pekan ini. Pertemuan tersebut akan membahas skenario peningkatan produksi minyak Venezuela, termasuk kemungkinan perluasan peran perusahaan AS dalam pemulihan sektor energi negara Amerika Selatan itu.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah AS juga telah menyampaikan dorongan kepada perusahaan minyak domestik untuk kembali menanamkan modal di Venezuela. Investasi tersebut diarahkan untuk memperbaiki infrastruktur migas yang rusak serta mengurangi ketergantungan AS terhadap pasokan minyak dari kawasan lain.

Respons pasar terlihat dari pergerakan saham emiten energi. Mengutip Reuters, Selasa (6/1/2026), saham Chevron satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela melalui izin khusus pemerintah melonjak sekitar 5%. Saham perusahaan penyulingan AS juga menguat signifikan, dengan Marathon Petroleum, Phillips 66, PBF Energy, dan Valero Energy mencatat kenaikan antara 3,4% hingga 9,3%.

Baca Juga: Bursa Eropa Cetak Rekor, Saham Pertahanan Terdongkrak Ketegangan Venezuela

Harga minyak mentah global turut ditutup naik sekitar USD1 per barel pada akhir perdagangan. Meski demikian, analis menilai dampak pasokan Venezuela terhadap pasar minyak global masih terbatas dalam jangka pendek, mengingat kondisi pasar saat ini berada dalam situasi kelebihan pasokan.

Trump menegaskan bahwa embargo terhadap seluruh ekspor minyak Venezuela masih diberlakukan sepenuhnya untuk sementara waktu. Dengan demikian, setiap perubahan kebijakan terkait Venezuela diperkirakan dilakukan secara bertahap dan sangat bergantung pada perkembangan politik serta kepentingan strategis AS.

Minyak mentah Venezuela dikenal sebagai minyak berat dan asam dengan kandungan sulfur tinggi, yang umumnya digunakan untuk produksi diesel dan bahan bakar berat. “Jenis minyak ini sangat sesuai dengan konfigurasi kilang di kawasan Pantai Teluk AS, yang secara historis dirancang untuk mengolah minyak berat seperti ini,” ujar analis riset Pepperstone, Ahmad Assiri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: