Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Bitcoin Akan Dipengaruhi Faktor Makro dan Dinamika Pasar di 2026

Harga Bitcoin Akan Dipengaruhi Faktor Makro dan Dinamika Pasar di 2026 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga bitcoin terus mencerminkan kombinasi kompleks antara tren makroekonomi global dan dinamika pasar kripto di 2026,

Direktur Riset dan Strategi Kripto Schwab Center, Jim Ferraioli mengatakan pergerakan bitcoin dibentuk oleh tiga faktor jangka panjang dan tujuh faktor jangka pendek.

Baca Juga: Morgan Stanley Tengah Ajukan Spot Bitcoin dan Solana ETF

Faktor jangka panjang tersebut meliputi pertumbuhan pasokan uang global, sifat pasokan bitcoin yang bersifat disinflasioner serta tingkat adopsi.

Sementara itu, pendorong jangka pendek mencakup sentimen risiko pasar, suku bunga, kekuatan dolar, faktor musiman, kelebihan likuiditas bank sentral, pasokan dari dompet bitcoin berukuran besar serta risiko penularan keuangan (financial contagion).

Beberapa faktor jangka pendek tersebut dinilai mulai berpihak pada bitcoin di 2026. Ferraioli mencatat bahwa credit spread tetap sempit dan pasar telah membersihkan banyak posisi derivatif spekulatif yang sebelumnya memicu aksi jual tajam pada akhir 2025.

“Lingkungan risk-on dalam pasar saham seharusnya mendukung kripto, yang merupakan aset berisiko tertinggi,” kata Ferraioli, dilansir Kamis (8/1).

Kebijakan moneter juga berpotensi menjadi pendorong. Menurutnya, suku bunga dan dolar diperkirakan akan terus melemah tahun ini, sementara likuiditas global tetap longgar seiring berakhirnya pengetatan kuantitatif dan dimulainya kembali ekspansi neraca bank sentral.

Meski demikian, sejumlah hambatan masih membayangi. Ferraioli memperkirakan adopsi dapat melambat pada paruh pertama tahun ini, terutama setelah volatilitas tinggi di 2025. Namun, ia melihat peluang perbaikan apabila kejelasan regulasi meningkat.

“Pengesahan Clarity Act dapat mempercepat adopsi oleh investor institusional murni,” ujarnya.

Ia juga menyoroti siklus halving bitcoin. Menurut Ferraioli, tahun ketiga setelah halving secara historis sering menjadi periode yang kurang menguntungkan bagi harga. Mengingat banyak investor kripto yang masih berpegang pada teori siklus tersebut, hal itu berpotensi menekan harga.

Baca Juga: Tom Lee: Belum Puncak, Harga Bitcoin Akan Cetak Rekor di Januari

Baca Juga: 7 Safe Ways to Invest in Crypto for Beginners

Ia juga memperkirakan perubahan pola korelasi bitcoin dengan aset tradisional. Meski masih berkorelasi tinggi dengan saham-saham akal imitasi berkapitalisasi besar, hubungan bitcoin dengan indeks saham secara keseluruhan dinilai mulai melemah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: