Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hadapi Inflasi Biaya Medis, Medix Global Nilai AI jadi Kunci Keberlanjutan Asuransi Kesehatan

Hadapi Inflasi Biaya Medis, Medix Global Nilai AI jadi Kunci Keberlanjutan Asuransi Kesehatan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Lonjakan inflasi biaya medis yang kian membebani industri asuransi dan masyarakat dinilai berpotensi menghambat pertumbuhan penetrasi asuransi kesehatan di Indonesia. Perusahaan manajemen medis global Medix Global menilai pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi strategi krusial untuk menekan biaya sekaligus menjaga keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

Pandangan tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk “Perspektif Medix tentang Lanskap Kesehatan Indonesia dan Bagaimana AI Mendefinisikan Ulang Layanan Kesehatan” yang digelar di Jakarta, Selasa (14/1). Forum ini membahas tantangan struktural sektor kesehatan dan asuransi, terutama di tengah inflasi biaya medis yang terus meningkat.

Medix mengungkapkan, inflasi biaya medis di Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 19,8 persen, jauh melampaui rata-rata negara Asia lainnya yang berada di kisaran 13,2 persen. Tekanan tersebut memaksa perusahaan asuransi kesehatan menaikkan premi secara signifikan, bahkan hingga 100 persen untuk sejumlah produk.

Chief Business Officer Medix Global, Jonathan Sternberg, menilai inflasi biaya medis yang konsisten di level 13-20 persen per tahun menunjukkan ketidaksinambungan sistem kesehatan.

“Jika tren ini berlanjut, semakin banyak masyarakat berisiko tidak mampu mengakses perlindungan kesehatan yang memadai. Alih-alih meningkatkan penetrasi asuransi, kondisi ini justru bisa menurunkannya,” ujarnya.

Situasi tersebut mendorong regulator memperketat pengawasan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkenalkan sejumlah kebijakan baru, antara lain penerapan skema co-payment bagi pemegang polis serta kewajiban pembentukan dewan penasihat kesehatan di perusahaan asuransi. Langkah ini ditujukan untuk menjaga kesehatan keuangan industri sekaligus meningkatkan tata kelola klaim.

Founder dan CEO Medix Global, Sigal Atzmon, menegaskan bahwa AI berpotensi menjadi solusi struktural untuk menekan eskalasi biaya medis. Menurutnya, teknologi ini memungkinkan pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat, mengurangi tindakan medis yang tidak perlu, serta mengoptimalkan jalur perawatan pasien.

“Fokus kami bukan hanya meningkatkan hasil kesehatan, tetapi juga membantu mengendalikan inflasi biaya medis agar sistem kesehatan tetap berkelanjutan,” kata Sigal.

Medix memanfaatkan AI dan analitik data untuk mendukung navigasi perawatan, validasi keputusan klinis, hingga pemilihan terapi yang paling tepat. Sejumlah penelitian yang dikaji Medix menunjukkan, tenaga medis yang didukung AI cenderung melakukan lebih sedikit kesalahan diagnosis dan rekomendasi pengobatan, sehingga berimplikasi langsung pada efisiensi biaya klaim.

Dari sisi bisnis, pendekatan berbasis data dan AI dinilai membuka peluang efisiensi signifikan bagi industri asuransi kesehatan. Medix mencatat, sejak beroperasi di Indonesia, perusahaan ini berhasil membantu 20,3 persen anggotanya terhindar dari biaya medis yang tidak perlu, serta memberikan rencana perawatan yang lebih akurat kepada 51 persen anggota.

Selain itu, Medix turut berkontribusi pada pengurangan tindakan medis besar yang sebenarnya dapat dihindari, serta menekan kebutuhan pengobatan ke luar negeri yang biayanya jauh lebih tinggi.

Baca Juga: OJK Terbitkan POJK Baru Asuransi Kesehatan

“Dalam banyak kasus, pasien di Indonesia sebenarnya bisa mendapatkan perawatan berkualitas dengan biaya lebih rendah di dalam negeri. Tantangannya ada pada kepercayaan dan akses,” ujar Sternberg.

Medix menilai prospek ekonomi Indonesia yang kuat menjadikan negara ini pasar strategis di Asia Tenggara. Namun, tanpa pengendalian inflasi biaya medis, pertumbuhan ekonomi tersebut berisiko tidak diimbangi dengan sistem kesehatan yang inklusif.

Ke depan, Medix menyatakan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan perusahaan asuransi, reasuransi, serta regulator guna mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Langkah ini diharapkan tidak hanya menekan biaya, tetapi juga menciptakan ekosistem kesehatan dan asuransi yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement

Bagikan Artikel: