Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Likuiditas Tipis Hambat Masuknya Investor Institusi ke Pasar Kripto

Likuiditas Tipis Hambat Masuknya Investor Institusi ke Pasar Kripto Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar kripto selama setahun terakhir kerap menggaungkan potensi masuknya dana institusional. Namun, keterbatasan likuiditas dinilai masih menjadi hambatan utama bagi investor besar untuk masuk tanpa mengganggu stabilitas harga.

Chief Commercial Officer Auros, Jason Atkins mengatakan bahwa illikuiditas merupakan masalah struktural terbesar industri kripto saat ini.

Baca Juga: Triv Ungkap Regulasi Jadi Kunci Industri Kripto

“Tidak cukup hanya mengatakan bahwa modal institusional ingin masuk jika tidak ada jalur yang memadai untuk menampungnya,” kata Atkins, dilansir Senin (19/1).

Menurutnya, persoalan utama adalah kemampuan pasar menyerap ukuran transaksi institusi. Ia menilai minat institusional tidak akan berarti jika pasar tidak memiliki kedalaman yang cukup.

“Atau sederhananya, apakah cukup kursi di dalam mobil?” ujarnya.

Atkins menjelaskan bahwa pasar kripto menjadi kurang likuid bukan karena minat menghilang, melainkan akibat proses deleveraging besar yang mengeluarkan leverage dan pelaku perdagangan lebih cepat daripada kemampuan sistem untuk memulihkannya.

Penyedia likuiditas merespons permintaan alih-alih menciptakannya. Ketika aktivitas perdagangan menurun, pembuat pasar akan mengurangi risiko, yang pada akhirnya mempersempit kedalaman pasar dan meningkatkan volatilitas. Kondisi ini kemudian memicu kontrol risiko yang lebih ketat dan penarikan likuiditas lanjutan.

Ia menambahkan bahwa investor institusi tidak dapat berfungsi sebagai penyeimbang pasar selama likuiditas tetap tipis, sehingga tidak ada penopang alami ketika tekanan pasar meningkat.

Atkins menegaskan bahwa volatilitas bukan faktor utama yang menghalangi investor besar. Masalah muncul ketika volatilitas terjadi di pasar yang tidak likuid, karena posisi sulit dilindungi dan lebih sulit lagi untuk ditutup.

Bagi institusi besar, risiko likuiditas menjadi perhatian utama karena mereka beroperasi di bawah mandat perlindungan modal.

“Bagi pemain institusional besar, ini bukan soal memaksimalkan imbal hasil, tetapi memaksimalkan imbal hasil sambil menjaga modal,” katanya.

Atkins juga membantah anggapan bahwa dana mengalir keluar dari kripto ke kecerdasan buatan (AI). Ia menilai akal imitasi dan kripto berada pada fase siklus yang berbeda, dengan kripto kini memasuki tahap konsolidasi, bukan lagi fase kebaruan.

Ia menambahkan bahwa perlambatan likuiditas lebih disebabkan oleh minimnya inovasi struktural baru, bukan karena berkurangnya minat investor.

Menurut Atkins, hingga pasar kripto mampu menyerap transaksi besar, melakukan lindung nilai secara efisien, dan menyediakan jalur keluar yang bersih, modal institusional akan tetap bersikap hati-hati.

Baca Juga: Alasan Bitcoin Masih Jadi Pilihan Utama Investor Kripto Pemula

“Minat mungkin masih ada tetapi likuiditas yang akan menentukan kapan modal itu benar-benar bergerak," tegasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: