Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Nyaris Rp17.000, BI Diproyeksi Tahan BI Rate

Rupiah Nyaris Rp17.000, BI Diproyeksi Tahan BI Rate Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026. Proyeksi tersebut didorong oleh kondisi nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan hingga mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Josua menilai, dalam situasi saat ini, pemangkasan suku bunga justru berisiko memperbesar tekanan terhadap nilai tukar. Oleh karena itu, BI perlu menjaga suku bunga tetap di level saat ini untuk mempertahankan daya tarik aset rupiah.

“Alasannya sederhana ketika nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dollar AS dan mendekati Rp17.000 per dolar AS, pemangkasan suku bunga justru berisiko memperkecil daya tarik imbal hasil aset rupiah, sehingga tekanan pada kurs bisa bertambah,” kata Josua kepada Warta Ekonomi, Jakarta, Rabu (21/1/2026). 

Baca Juga: Jelang Pengumuman BI Rate, IHSG Anjlok 1,24% ke Level 9.021

Josua menjelaskan, pelemahan nilai tukar berpotensi merembet pada kenaikan harga barang impor dan mengganggu pembentukan ekspektasi inflasi. Sementara itu, inflasi pada akhir 2025 tercatat kembali meningkat menjadi 2,92% pada Desember 2025 akibat gangguan pasokan pangan, meskipun masih berada dalam sasaran BI.

“Karena itu, prioritas BI cenderung menjaga stabilitas nilai tukar dan menjaga selisih suku bunga dengan Amerika Serikat agar gejolak tidak meningkat,” terangnya. 

Josua menambahkan, ke depan arah kebijakan suku bunga BI cenderung bukan untuk dinaikkan, melainkan diturunkan secara bertahap. Namun, waktu penurunan tersebut dinilai belum akan terjadi dalam waktu dekat. 

Karena, data domestik belum menunjukkan pelemahan ekonomi yang cukup tajam untuk mendorong pemangkasan suku bunga segera.

Selanjutnya, kegiatan dunia usaha triwulan IV 2025 masih terjaga dan ada harapan membaik di triwulan I 2026, industri pengolahan masih ekspansi, keyakinan konsumen tetap tinggi, dan penjualan eceran masih tumbuh secara tahunan. 

Dalam kerangka itu, ruang penurunan suku bunga biasanya baru lebih realistis ketika tekanan kurs mereda, aliran modal asing kembali lebih kondusif, dan arah inflasi makin jelas terkendali

“Peluangnya terbuka paling cepat sekitar akhir kuartal II 2026 atau awal semester II 2026,” tambahnya. 

Baca Juga: BI Rate Berpotensi Tertahan Akibat Risiko Inflasi 2026

Josua menjelaskan sentimen yang paling menentukan arah kebijakan tersebut berasal dari kombinasi faktor global dan domestik, diantaranya penguatan dolar AS dan arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang cenderung masih ketat pada awal 2026.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik yang mendorong pelarian ke aset aman, serta kekhawatiran pasar pada posisi fiskal yang bisa menambah premi risiko dan menahan minat pada tenor panjang. 

Dari sisi dalam negeri, tekanan inflasi pangan akibat cuaca dan gangguan pasokan juga membuat BI lebih berhati-hati untuk melonggarkan terlalu dini. 

“Jadi, skenario dasarnya adalah BI-Rate ditahan dulu di 4,75%, lalu berpeluang turun bertahap di paruh kedua 2026 jika rupiah lebih stabil dan inflasi mereda, sementara skenario alternatifnya, bila tekanan kurs dan sentimen risiko memburuk, BI bisa menahan lebih lama dan menutup ruang penurunan,” tutupnya. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: