Pemerintah Dorong Transisi Ekonomi Hijau, Bakal Buka Peluang Kerja Skala Besar
Kredit Foto: Nadia Khadijah Putri
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Pemerintah terus mendorong transisi ekonomi hijau sebagai bagian dari strategi nasional dalam memperkuat kemandirian bangsa dan meningkatkan daya saing ekonomi, sesuai dengan visi Asta Cita.
Dalam memastikan upaya tersebut inklusif, berkeadilan, dan memberikan manfaat nyata, transformasi ekonomi hijau dilaksanakan melalui tiga pilar utama berupa pengembangan Green Energy, penguatan Green Economy, serta penciptaan Green Jobs.
Baca Juga: Deputi 3 Kemenko Perekonomian Bahas Rencana Program dan Target Kinerja 2026
Ini disampaikan Menko Airlangga dalam acara Seminar Nasional: Transisi Energi Berkeadilan dan Peluang Green Jobs Serta Green Economy di Kalimantan Timur Dan Indonesia di Universitas Balikpapan, Selasa (27/01/2026).
“Ambisi besar tersebut tentu membutuhkan landasan ekonomi makro yang kokoh agar transformasi ini dapat berjalan berkelanjutan,” jelasnya, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Rabu (28/1).
Kinerja perekonomian nasional menunjukkan ketahanan yang solid dengan capaian pertumbuhan ekonomi pada Q3-2025 sebesar 5,04% (yoy), dan inflasi per Desember 2025 yang tetap terkendali di level 2,92% (yoy). Pertumbuhan ekonomi mendatang diproyeksikan akan tetap kuat, sebesar 5,2% pada 2025 dan 5,4% pada 2026. Sentimen ekonomi domestik juga terjaga positif, tercermin dari IHSG yang sempat mencatat rekor tertinggi, PMI Manufaktur Desember 2025 yang berada di zona ekspansif (51,2), serta Indeks Keyakinan Konsumen yang tetap optimistis di level 123,5.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 juga mencatatkan surplus sebesar USD2,66 miliar dengan surplus kumulatif Januari–November 2025 mencapai USD38,54 miliar dan berlangsung 67 bulan berturut-turut. Realisasi investasi PMA dan PMDN sepanjang 2025 mencapai Rp1.931 triliun atau tumbuh 12,7% (yoy), sementara cadangan devisa berada di level tinggi sebesar USD156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Pertumbuhan kredit yang terjaga sebesar 9,3% (yoy), terutama didorong kredit investasi juga memberikan fondasi yang kuat bagi stabilitas ekonomi dan ruang fiskal untuk mendukung investasi strategis, termasuk pengembangan sektor energi bersih.
Upaya percepatan transisi energi menjadi langkah nyata Indonesia menuju kedaulatan energi sekaligus penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang bersih dan berkelanjutan. Dengan dukungan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 3.686 GW, dengan Kalimantan menyumbang sekitar 517 GW yang didominasi oleh energi surya.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pemerintah mendorong pembangunan green super grid sepanjang sekitar 70 ribu kilometer, pengembangan biofuel B40–B50, serta bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Selain itu, pemanfaatan hidrogen, energi nuklir, green ammonia, serta penerapan teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) juga terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya penurunan emisi sektor industri secara berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait:
Advertisement