Kredit Foto: Djati Waluyo
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menanggapi kabar hengkangnya raksasa energi asal Amerika Serikat, ExxonMobil, dari proyek Carbon Capture and Storage (CCS) Sunda Asri yang digarap bersama PT Pertamina (Persero).
Inspektur Minyak dan Gas Bumi Ahli Muda Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Fahrur Rozi Firmansyah, menyatakan hingga kini pihaknya belum menerima informasi resmi terkait pengunduran diri ExxonMobil dari proyek tersebut. Menurut dia, kerja sama kedua pihak masih berada dalam tahap proses.
“Memang mereka join dengan Pertamina. Secara resmi tidak ada penarikan diri karena semuanya masih dalam proses. Setahu kami tidak ada mereka (Exxon) menarik diri,” kata Rozi dalam agenda Launching IICCS 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Baca Juga: Gegara Kritik, Upaya Investasi Exxon Mobil Terancam Digagalkan Trump
Kabar mundurnya ExxonMobil mencuat setelah Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan pernyataan dalam forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026). Simon menyebut Pertamina tengah mencari mitra baru untuk mengelola cekungan tersebut.
“Untuk CCS, kami sebenarnya memiliki Cekungan Sunda Asri yang kapasitas penyimpanannya cukup besar, tetapi kami membutuhkan mitra baru karena ada perkembangan di mana mitra kami sebelumnya memilih fokus ke area lain,” ujar Simon.
Cekungan Sunda Asri berlokasi di lepas pantai Sumatera Tenggara dan berada di bawah kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) Southeast Sumatera. Wilayah ini diproyeksikan memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang besar, mencapai sekitar 3 gigaton.
“Itulah mengapa kami harus terus maju, dan Singapura adalah salah satu pelanggan potensial kami untuk penyimpanan CO₂ di Cekungan Sunda Asri tersebut,” lanjut Simon.
Baca Juga: Investasi Sektor ESDM Melandai Rp 9,75 T Sepanjang 2025 di Tengah Ambisi Hilirisasi
Sebagai informasi, kerja sama proyek ini sebelumnya diperkuat melalui nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan ExxonMobil yang ditandatangani pada Januari 2025. Proyek yang mencakup pengembangan kompleks petrokimia berteknologi tinggi dan fasilitas rendah emisi ini diperkirakan membutuhkan investasi hingga US$10 miliar atau sekitar Rp157 triliun, dengan asumsi kurs Rp15.700 per dolar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menegaskan proyek tersebut merupakan langkah strategis dalam mendorong ekonomi berkelanjutan Indonesia.
“Kami harapkan proyek ini berdampak signifikan bagi Indonesia,” ujar Airlangga saat penandatanganan MoU di Jakarta tahun lalu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement