Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AirAsia Indonesia Pangkas Kerugian 15 Persen di 2025, Buka Rute Melbourne dan Da Nang di 2026

AirAsia Indonesia Pangkas Kerugian 15 Persen di 2025, Buka Rute Melbourne dan Da Nang di 2026 Kredit Foto: Air Asia
Warta Ekonomi, Jakarta -

AirAsia Indonesia memasuki 2026 dengan ekspansi jaringan penerbangan, setelah sepanjang tahun lalu maskapai ini berhasil memangkas kerugian sekitar 15 persen dibanding tahun 2024.

Pada kuartal I 2026, dua rute internasional baru sudah dibuka, yaitu Bali-Melbourne dan Bali-Da Nang, Vietnam. Selain itu, Makassar disiapkan sebagai virtual hub untuk memperluas konektivitas ke wilayah Indonesia timur, menghubungkan Surabaya, Palu, Luwuk, dan Kendari.

Seluruh rute AirAsia Indonesia juga terhubung dengan layanan Fly-Thru AirAsia Group yang memungkinkan penumpang melanjutkan perjalanan ke lebih dari 150 destinasi dalam jaringan grup di berbagai negara.

Di 2025, ekspansi internasional sudah dimulai lebih awal dengan pembukaan rute Bali-Darwin, Bali-Adelaide, dan Surabaya-Don Mueang, Bangkok. Di sisi domestik, maskapai membuka rute Jakarta-Manado, Surabaya-Balikpapan, Balikpapan-Tarakan, dan Balikpapan-Berau untuk memperkuat konektivitas antardaerah.

Sepanjang 2025, Indonesia AirAsia mengangkut 5,91 juta penumpang dengan tingkat keterisian kursi (load factor) sebesar 83 persen di seluruh jaringan penerbangan. Total pendapatan tercatat Rp7,87 triliun, dengan penjualan kursi menyumbang Rp6,62 triliun sebagai komponen terbesar.

Pendapatan tambahan (ancillary revenue) dari bagasi, layanan dalam penerbangan, kargo, charter, dan layanan lainnya mencapai Rp1,25 triliun atau naik 3 persen dibanding 2024. Angka itu menjadi penopang kedua setelah penjualan kursi dalam struktur pendapatan maskapai.

"Sepanjang 2025 kami fokus memperkuat konektivitas penerbangan sekaligus menjaga efisiensi operasional. Upaya tersebut memungkinkan Indonesia AirAsia menurunkan kerugian di tengah tantangan industri penerbangan yang masih menghadapi tekanan biaya operasional," kata Direktur Utama AirAsia Indonesia Achmad Sadikin Abdurachman dikutip dari ANTARA.

Penurunan kapasitas sementara akibat jadwal perawatan pesawat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja operasional sepanjang tahun.

Program perawatan itu berdampak pada berkurangnya kursi yang tersedia di beberapa periode, meski manajemen menyebutnya sebagai bagian dari standar keselamatan dan keandalan operasional.

Tekanan biaya juga datang dari sisi nilai tukar. Depresiasi dolar AS sekitar 3,8 persen turut menekan biaya operasional yang sebagian besar berbasis mata uang asing, mengingat komponen seperti bahan bakar dan sewa pesawat lazimnya bertransaksi dalam dolar.

Meski demikian, perseroan berhasil menekan cost per available seat kilometre (CASK) sebesar 1,4 persen dibanding 2024 melalui berbagai langkah efisiensi.

"Perbaikan kinerja ini mencerminkan penguatan operasional maskapai di tengah dinamika industri penerbangan yang masih menghadapi tantangan biaya operasional dan fluktuasi nilai tukar," ujar Achmad.

Baca Juga: Prabowo: Kekayaan Alam Indonesia Milik Bangsa, Bukan Pengusaha

Penguatan peran Bali sebagai hub internasional menjadi fokus utama strategi 2026.

"Penguatan peran Bali sebagai hub internasional diharapkan dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke Indonesia sekaligus memperluas konektivitas penerbangan menuju berbagai destinasi internasional," ujar Achmad.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: