Iran Disebut Tengah Menerapkan Strategy of Resilience, Dianggap Menang Cukup dengan Bertahan Saja
Kredit Foto: Istimewa
Gempuran udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel disebut telah melumpuhkan sebagian besar stok rudal dan drone Iran, kini Teheran dilaporkan mengadopsi strategi serangan balik yang lebih terukur.
Menghadapi ketimpangan kekuatan militer jika berkonfrontasi langsung dengan AS dan Israel, Iran memilih pendekatan asimetris dengan menargetkan titik-titik penting yang berkaitan dengan operasi militer AS di kawasan Teluk Persia.
Berdasarkan analisis pemetaan konflik terbaru yang dipublikasikan oleh The New York Times, terdapat tiga kategori utama yang menjadi prioritas sasaran Iran dalam upaya mengganggu operasi militer AS di kawasan tersebut.
Target pertama adalah instalasi militer dan fasilitas pelabuhan yang digunakan untuk mobilisasi pasukan. Salah satu serangan yang dianggap paling signifikan terjadi di Pelabuhan Shuaiba di Kuwait pada 1 Maret.
Serangan itu dilaporkan menewaskan enam personel militer Amerika Serikat dan melukai sejumlah lainnya. Secara keseluruhan, sedikitnya 11 instalasi militer di kawasan Teluk dilaporkan telah menjadi sasaran serangan rudal maupun drone Iran.
Target kedua adalah radar pertahanan udara serta fasilitas komunikasi militer. Iran berupaya menargetkan sistem yang menjadi "mata dan telinga" militer AS di kawasan Teluk. Serangan terhadap radar dan pusat komunikasi milik AS dinilai sebagai upaya untuk mengganggu koordinasi operasi militer.
Meski demikian, sistem cadangan yang dimiliki militer AS membuat gangguan tersebut tidak sepenuhnya menghentikan operasi, namun dinilai berpotensi memperlambat dan mempersulit koordinasi di lapangan.
Sasaran ketiga yang dinilai paling provokatif adalah target non-militer, termasuk fasilitas diplomatik Amerika Serikat. Beberapa serangan dilaporkan menyasar kedutaan dan konsulat AS di negara-negara seperti Arab Saudi dan Kuwait.
Serangan terhadap fasilitas diplomatik dipandang sebagai tindakan yang secara langsung menyasar simbol kedaulatan Amerika Serikat di luar wilayahnya. Selain merusak infrastruktur, serangan ini juga dinilai bertujuan mengganggu aktivitas diplomatik Washington di kawasan selama konflik berlangsung.
Para analis menilai rangkaian serangan tersebut menunjukkan bahwa Iran telah menyiapkan rencana jangka panjang dalam menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel. Pendekatan ini kerap disebut sebagai "strategy of resilience".
Dalam strategi tersebut, kemenangan tidak didefinisikan sebagai kemampuan mengalahkan militer lawan di medan perang. Bagi kepemimpinan di Teheran, keberhasilan diukur cukup dari kemampuan bertahan saja dengan menghadapi tekanan militer dan menjaga keberlangsungan rezim.
Melalui serangan-serangan terbatas namun strategis, Iran berupaya menunjukkan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan tetap memiliki biaya politik dan militer yang tinggi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: