Kredit Foto: Nadia Khadijah Putri
Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian mengumumkan kondisi terkini ekonomi Indonesia berdasarkan tiga indikator penting yang dirilis pada Senin (2/2/2026).
Berdasarkan tiga indikator ini, yaitu inflasi yang masih terkendali, neraca perdagangan yang surplus 68 bulan berturut-turut, dan sektor manufaktur yang melanjutkan ekspansi, perkembangan ekonomi Indonesia semakin kuat.
Baca Juga: Seskab Teddy: Diplomasi Presiden Prabowo Berorientasi pada Hasil Nyata dan Kepentingan Nasional
Inflasi Dijaga Terus Terkendali
Inflasi tahunan Januari 2026 tercatat sebesar 3,55% (year-on-year), dimana angka tersebut tidak mencerminkan kenaikan harga yang signifikan, melainkan dipengaruhi oleh low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik 50% pada Januari–Februari 2025, yang membuat inflasi tahunan terlihat lebih tinggi secara perhitungan.
Hal tersebut terlihat dari perkembangan inflasi bulanan yang sangat terkendali. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga hanya mencatat inflasi 0,01% (mtm), menunjukkan harga relatif stabil. Selain itu, harga pangan bergejolak (volatile food) juga turun 1,14% (yoy) pasca kenaikan sementara pada Desember 2025 akibat bencana hidrometerologi dan kenaikan permintaan Nataru. Dengan demikian, inflasi Januari 2026 tetap terkendali dan tekanan harga domestik tidak menunjukkan peningkatan berarti.
Secara bulanan, perekonomian nasional justru mengalami deflasi 0,15% (mtm). Adapun inflasi pangan (volatile food) turun signifikan sebesar -1,96% (mtm) seiring beberapa komoditas seperti cabai dan bawang merah tengah memasuki masa panen dan membaiknya pasokan di berbagai sentra produksi. Penurunan harga pangan yang terjadi secara alamiah karena faktor musim panen merupakan kondisi yang sehat bagi perekonomian. Kebijakan stabilisasi harga yang proporsional dan terukur akan menjaga daya beli baik di sisi konsumen maupun produsen, sehingga rantai pasok pangan tetap terjaga keberlanjutannya.
Penurunan harga BBM Non Subsidi untuk bahan bakar bensin dan solar pada Januari 2026 juga mendorong deflasi komponen Administered Price (AP) yakni 0,32% (mtm). Namun, inflasi inti meningkat 0,37% (mtm), terutama dari emas perhiasan yang memberikan andil 0,16%.
Pemerintah telah melaksanakan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) pada 29 Januari 2026 lalu. Pemerintah optimis bahwa inflasi 2026 masih tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1% dengan didukung bauran kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah, Bank Indonesia, serta koordinasi pengendalian inflasi melalui strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif).
"Dalam HLM TPIP, kami menegaskan komitmen menjaga inflasi 2026 pada kisaran sasaran 2,5±1% dan inflasi pangan pada kisaran 3,0-5,0%. Koordinasi pusat dan daerah terus diperkuat untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan antarwaktu dan antarwilayah termasuk untuk mendukung program prioritas pemerintah, meningkatkan kelancaran distribusi dan kualitas logistik pangan dari wilayah surplus ke defisit, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok terutama saat HBKN Ramadhan dan Idul Fitri, serta memperkuat dukungan infrastruktur dan logistik pascabencana untuk percepatan pemulihan ekonomi daerah terdampak," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Kamis (5/2).
Neraca Perdagangan: 68 Bulan Surplus Berturut-turut
Indonesia kembali menegaskan daya tahan dan daya saing perdagangannya dengan mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 6 tahun berturut-turut, sekaligus memperpanjang rekor 68 bulan surplus tanpa putus. Sepanjang 2025, surplus kumulatif mencapai USD 41,05 miliar, melonjak signifikan dari USD 31,33 miliar pada tahun sebelumnya, sebuah capaian impresif yang memperkuat fondasi eksternal perekonomian dan menunjukkan kinerja perdagangan yang kian solid serta kredibel.
Kinerja tersebut terutama ditopang oleh surplus nonmigas yang kuat, dengan Amerika Serikat menjadi sumber surplus terbesar sebesar USD 18,11 miliar, diikuti India USD 13,49 miliar. Di sisi ekspor, Indonesia membukukan nilai USD 282,91 miliar atau tumbuh 6,15% (yoy) sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan tersebut digerakkan sektor produktif pencipta nilai tambah, yakni ekspor nonmigas industri pengolahan yang melesat 14,47% (yoy). Struktur pasar ekspor nonmigas juga tetap kuat, dimana Tiongkok menjadi tujuan utama dengan pangsa 24,02%, disusul Amerika Serikat 11,47%, dan India 6,79%.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: