Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Saham Bank Jumbo hingga TLKM Berguguran Terseret Efek Moody's

Saham Bank Jumbo hingga TLKM Berguguran Terseret Efek Moody's Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keputusan Moody’s menurunkan prospek sembilan emiten dari stabil ke negatif masih berdampak pada pergerakan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada Senin (9/2/2026). Sentimen ini membuat sejumlah saham unggulan akhirnya harus ditutup di zona merah.

Adapun emiten yang terkena penurunan outlook tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT United Tractors Tbk. (UNTR), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).

Pada awal pekan ini, saham-saham tersebut mayoritas menutup perdagangan dengan kinerja lesu. BBCA yang dibuka stagnan di Rp7.675, harus ditutup turun paling dalam 2,28% ke Rp7.500. BMRI yang dibuka stabil di Rp5.050 berakhir melemah 0,99% ke Rp5.000. BBTN sempat dibuka menguat di Rp1.300, namun ditutup turun 1,95% ke Rp1.255.

Baca Juga: Respons Outlook Moody’s, BEI Tekankan Fundamental Emiten Masih Kuat

Pergerakan serupa terjadi pada BBNI yang sempat naik ke Rp4.570, tetapi akhirnya terkoreksi 0,22% ke Rp4.520. BBRI juga tak mampu mempertahankan penguatan awal, setelah dibuka di Rp3.790 dan berakhir turun 0,26% ke Rp3.770. TLKM yang sempat dibuka menghijau di Rp3.430 akhirnya ditutup melemah 0,89% ke Rp3.350, sedangkan PGAS yang dibuka memerah di Rp2.200 tetap terkoreksi 0,45% ke Rp2.220 pada penutupan perdagangan. 

Sementara itu, ICBP dibuka stagnan di Rp8.075, sempat bergerak dari kisaran Rp7.875 hingga Rp8.175 sepanjang sesi namun akhirnya ditutup stabil di level Rp8.075. Adapun UNTR menjadi satu-satunya yang dibuka menguat di Rp26.950 dan mengakhiri perdagangan dengan kenaikan 2,27% ke Rp27.000.

Sebelumnya, Moody’s mengubah outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan sorotan utama pada menurunnya kepastian dan konsistensi kebijakan yang dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta kredibilitas institusional pemerintah. Meski demikian, peringkat kredit Indonesia dipertahankan di level Baa2 (investment grade).

Baca Juga: Purbaya: Ekonomi RI Tumbuh Kuat, Penilaian Moody’s Berpotensi Membaik

Moody’s menegaskan, jika tren ketidakpastian kebijakan ini berlanjut, kredibilitas kebijakan yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan Indonesia berpotensi tergerus. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas pasar dan menekan daya tarik investasi.

Dalam penilaiannya, Moody’s mencatat melemahnya koherensi proses pengambilan kebijakan dan efektivitas komunikasi pemerintah sepanjang setahun terakhir. Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar, serta penurunan skor Indonesia pada indikator global terkait efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi. Moody’s menilai pelemahan ini berpotensi mencerminkan penurunan kekuatan institusional dibandingkan dengan yang sebelumnya diasumsikan.

Lembaga pemeringkat tersebut juga menyoroti arah kebijakan fiskal yang semakin bertumpu pada belanja publik untuk mendorong pertumbuhan, di tengah basis penerimaan negara yang dinilai masih sangat lemah. Menurut Moody’s, strategi ini meningkatkan risiko defisit fiskal yang lebih lebar apabila tidak disertai reformasi penerimaan yang kredibel dan berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Bagikan Artikel: