Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Bank Indonesia (BI) menilai ekonomi Indonesia berpotensi untuk tumbuh lebih tinggi lagi baik di tahun ini maupun di tahun yang akan datang. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar hal tersebut dapat direalisasikan.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juli Budi Winantya mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada implementasi kebijakan baik dari sisi fiskal, moneter, maupun kebijakan lainnya.
"Tentunya perkiraan kami bisa menuju ke batas atas. Itu juga apply (sejalan) ke kebijakan pemerintah," kata Juli dalam diskusi media di Pontianak, Kalimantan Barat, akhir pekan kemarin.
Baca Juga: BI Puji Kinerja Pemprov DKI yang Sukses Melejitkan Pertumbuhan Ekonomi Secara Cepat
Lebih lanjut Ia menyebutkan salah satu contoh kebijakan yang tepat sasaran adalah kebijakan subsidi pupuk yang dilakukan pemerintah. Lewat kebijakan ini, sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang tinggi mencapai 10,52% yoy di kuartal I 2025, rekor tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
"Jadi sebelum tanam, pupuknya sudah ada. Nah itu terlihat bisa mendongkrak ekonomi bisa tumbuh tinggi, meskipun sebelumnya tidak mungkin," sebut Juli.
Oleh sebab itu, jika kebijakan yang dijalankan efektif dan tepat sasaran maka hal tersebut bakal mendorong perekonomian untuk tumbuh lebih tinggi lagi. Makanya, sinergi diperlukan agar kebijakan yang dijalankan pemerintah maupun bank sentral bisa turut mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
"Kita bisa lihat jika kebijakan efektif, tepat sasaran, tentunya akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," imbuhnya.
Baca Juga: BI Pastikan Kenaikan Harga Emas Tak Ganggu Target Inflasi Tahun ini
Adapun untuk tahun ini, Bank Sentral memprakirakan pertumbuhan ekonomi RI 2026 pada kisaran 4,9% hingga 5,7% year on year (yoy). Untuk tahun depan, BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,1% hingga 5,9%. Sementara itu, prakiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2031 mendatang, dibagi menjadi tiga skenario.
Pertama, skenario baseline yang diperkirakan pada kisaran 5,6% hingga 6,4%. Kedua, skenario optimistis pada kisaran 6,1% hingga 6,9%. Ketiga, skenario super optimistis pada kisaran 6,9% hingga 7,7%.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: